Tutur Sang Waktu, Nasihat Untuk Kita

Kawan-kawan…

Ketahuilah bahwa sang waktu memberikan kita kesempatan untuk bisa mengecap beragam rasa dan aroma dinamika organisasi. Tanpa kita niati serius, sekarang kita diberi suatu jabatan.

Sang waktu ingin mengajarkan tanggung jawab agar hidup kita sebagai mahasiswa menjadi lebih bermakna. Hanya kita yang dipilih untuk bisa mencapai tujuan keren itu.

Orang-orang di luar sana banyak yang memiliki ambisi membabi buta untuk mengejar jabatan tertentu. Meski tujuan yang mereka bawa bermacam-macam.

Tapi paling tidak dari mereka kita bisa belajar bahwa mereka itu belum tentu bisa seberuntung kita.
Energi mereka habis hanya untuk menyusun ijtihad dengan trik-trik yang bisa jadi tidak didasari pada niat kebaikan.

Sedang kita, sebagai mahasiswa yang masih strata awal saja sudah dimuliakan oleh sang waktu dengan kesempatan berorganisasi. Bukankah menyenangkan jika peluang ini kita manfaatkan dengan baik?

Sebagai manusia yang dianugerahi daya positif dan negatif, sudah menjadi keniscayaan jika kita kadang malah terlena dengan suatu peluang. Tenang kawan, itu manusiawi kok.

Namun sifat manusiawi yang melekat pada diri kita bukan berarti kita selalu mencari pembenaran atas ketidakberdayaan dan kelemahan kita. Memaklumi hal-hal positif juga harusnya bagian dari sifat manusiawi itu sendiri.

Adanya hadiah mulia berupa jabatan ini mau tidak mau sekarang melahirkan tanggung jawab. Sudah menjadi sabda alam jika ada akibat maka ada penyebab bukan? Sang waktu tentu besar kemungkinkannya akan kecewa kepada kita jika peluang mahal ini kita lewatkan begitu saja.

Sekarang nurani kita mungkin sedikit banyak bertutur bait-bait penyesalan. Namun yang mulia logika memborgol nurani agar bisa sedikit diam dalam bungkaman.

Padahal seorang mahasiswa pada dasarnya adalah ia yang mampu mendamaikan hubungan akal dan nurani agar terjalin relasi laku tindakan yang baik demi sebuah harmonisasi organisasi.

Tidak selamanya kita terus menerus memberi ruang diri pada kenyamanan. Kenyamanan hanya merubah diri kita pada kemacetan langkah kemajuan.

Kemacetan yang akhirnya hanya akan berpangkal pada arogansi dan keengganan untuk terus menapak di koridor kebermanfaatan.

Sang waktu memberi kita peringatan untuk tidak menjatuhkan diri kita di lobang yang sama. Rasa sayangnya mengharapkan diri kita agar menanggalkan kedok-kedok yang selama ini menyelimuti kita dengan kenyamanan.

Ia memberi kita nasihat untuk selalu berusaha menikmati anugerah tanggung jawab. Maka, sudah saatnya kita kembali melukis harapan, mendebat konsep-konsep, dan memproduksi karya-karya ajaib demi harmonisasi organisasi kita. Ayo kita lakukan, kawan!

(Harlianor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *