Reviens

 

Sinopsis

Diantara lembar kertas yang dibubuhi kata bernama sajak, aku termangu bingung.
Apa yang akan kutuliskan nanti pada awan yang suka menangis, kepada bintang yang suka bersinar, juga burung yang suka terbang sambal berkicau.
Aku ini tidak normal.
Aku ini manusia luar biasa, kata Dokter Angga.
Aku membutuhkan apa yang mungkin tidak kalian butuhkan, aku menginginkan apa yang mungkin kalian tidak inginkan.
Tapi aku masih sama seperti kalian, manusia yang diberi akal pikiran.
Meski milikku tidak sempurna, aku sakit mental.
Aku hanyalah aku yang tidak dapat menerima kenyataan.
Hidup dalam kesendirian itu menakutkan.
Karenanya aku enggan menatap hidup sendirian, aku ingin memiliki Bedul dan Mas Tito yang pengertian.

Jangan terlalu nyaman,

Rumah belum tentu menjadi tempat kamu bersandar kapan saja,

Barangkali tempat ini cuma sekedar pos kamling untuk kamu singgah dan pergi lagi.

Hidup ini berisi tentang perjalanan bukan?

 

Katamu, kala itu.

Sederhana, kupikir yang kau katakan itu tidak bermakna ganda. Hanya sebatas mengingatkan aku yang terlalu suka berdiam diri di rumah tanpa mau peduli hiruk pikuk dunia dan urusan orang lain agar mulai membuka diri dan bersahabat dengan keramaian. Namun setelah tahun-tahun SMA berlalu dan menyisakan kenangan manis, seharusnya aku baru menyadari bahwa yang kau sebut rumah adalah dirimu bagiku. Meski dengan begitu percaya dirinya, kukatakan tidak akan pernah berpisah darimu, kenyataannya kau sendiri yang ingin berhenti menjadi rumah bagiku. Menyisakan kepompong tanpa rumah, aku kedinginan, lambat dan lemah. Sunyi.

Seharusnya aku sadar sejak awal jika entitas dirimu di sisiku adalah bayangan dari kenyamanan yang ada dalam ilusi seorang Lusi.

“Jangan terlalu nyaman, Lus, persahabatan itu gak akan luput dari perasaan yang berkembang, Jangan menaruh banyak harap juga, sebelum kamu siap sakit hati nantinya”

Kalimat Mas Tito di penghujung musim panas dua tahun lalu kembali menghinggapi pendengaran. Entah mengapa berat mengiyakan nasihat Mas Tito waktu itu, aku memang sudah terlalu nyaman bersama Bedul, anak tetangga yang jailnya minta ampun tapi melankolis kalau habis ditolak perempuan yang disukainya. Waktu itu, mungkin bukan hanya aku yang nyaman, tapi Bedul juga. Kami terdidik bersama sehingga patah hati juga harus bersama-sama.

Seperti malam pentas seni di tahun pertama SMA, Bedul yang ditolak Sasa sehabis manggung dan aku yang patah hati karena Bedul mengungkapkan rasa pada Sasa.
Kita patah di waktu yang sama, untuk alasan yang sama. Namun pada orang yang berbeda. Ya kalau pada orang yang sama, gak normal lah aku dan Bedul ini. Namun sebagai sahabat dari lahir-kalau kata Bedul begitu- aku harus tetap berada di sisinya untuk membantu dia lupa dengan Sasa. Sampai Bedul benar-benar move on dari Sasa, sedangkan aku malah makin jatuh dalam pesona seorang Bedul.

“Kita ini teman yang tak bisa dipisahkan lagi”

Kataku, menutup benih rasa yang dirasa salah dengan bersembunyi di balik kata persahabatan. Udah kaya lagunya Cakra Khan, ya?

Bedul yang sedang siap-siap untuk sparing futsal hanya tersenyum lucu. Senyum yang sebenarnya perih jika kujabarkan sendiri.

Aku terlalu lugu, jika boleh dibilang aku terlalu egois. Saking takutnya kehilangan menyapa tali yang sudah kita ikat berdua, terpaksa kukorbankan tali-tali lain yang berusaha mengikatku dan Bedul secara nyata.

Kemudian pada hari-hari yang tersisa menjelang Ujian Nasional, Bedul yang ambisius menggeluti puluhan soal Kimia, dan aku dengan kamus biologi yang pas dimasukkan saku seragam sekolah. Belajar bersama katanya, tapi hanya Bedul yang belajar dengan benar, memperhatikan angka dan rumus kimia yang enggan aku pahami saking pusingnya dengan hitungan sekaligus hafalan, dan aku hanya mempelajari betapa Bedul sangat ingin menjadi yang terbaik di tengah keterbatasan.

Jika aku belum lahir sebagai manusia, mungkin aku ingin menjadi angka-angka itu saja. Selalu Bedul perhatikan dengan serius tanpa mau ada kesalahan ketika mengerjakannya. Tapi kalau dipikir lagi aku tidak mau juga, barangkali jika aku lahir sebagai angka angka, Bedul tidak akan menyukai angka dan kimia seperti sekarang. Jadi setidaknya sebagai teman yang kurang pandai ini, aku masih bisa menikmati wajahnya yang serius kala menghapus kesalahan di buku, menggigit pulpen saat otaknya mulai gersang, atau menggerutu dengan suara putus asa.

“Lulus SMA mau kemana, Lus?”

“Disini aja, emang mau kemana lagi”

Dia menghembuskan nafas berat. Mungkin lelah menghadapi aku yang tidak mau diajak maju, konservatif, primitif katanya.

Jika diibaratkan konstelasi benda langit, Bedul itu bintang sedangkan aku bulan. Bedul bersinar dengan cahaya yang dia miliki sendiri sedangkan aku harus menunggu ditransfer cahaya dulu baru mau muncul ke permukaan langit. Sayangnya, bulan yang ini tidak mau bersinar kalau bukan bintang Bedul yang mentransfer cahaya.

Kalau remaja saat ini bilang, aku ini budak cintanya Bedul.

Ya, budak cinta tapi tak punya ikatan apa-apa. Karena aku terlalu takut berpisah setelah saling bersama sepanjang perjalanan hidup. Aku pengikut mereka yang lebih suka berteman daripada membangun hubungan, dengan dalih tidak akan ada benci di kemudian hari. Walaupun nyatanya, aku ini hanya terlalu takut kehilangan dan takut terasingkan.

“Jangan terlalu nyaman,Lusi. Kamu gak akan hidup kaya gini terus kan?”

Bedul melanjutkan setelah tadi mengambil segelas air es untuk menjernihkan pikiran.

“Aku tahu apa yang aku mau, Dul. Kamu tenang aja deh. Kaya baru kenal aku sehari aja, sih”

Aku menimpali tanpa menatapnya yang sepertinya masih kesal.

“Justru karena aku udah kenal kamu dari lama, Lus. Sampek bosen tau gak?”

Aku berhenti mengunyah snack yang ada di mulutku, berusaha biasa saja mendengar ucapannya yang suka sembrono sewaktu-waktu.

Kata bosan yang awalnya hanya sebagai pemacu semangatku melanjutkan pendidikan, akhirnya menjadi alasan mengapa aku ditinggalkan.

Jika kepompong adalah aku, maka aku adalah kepompong yang ditinggalkan rumahnya untuk mencari kepompong baru yang lebih layak dinaungi. Rumahku bisa berjalan semaunya, sedangkan aku hanya diam dengan kaki semu yang terlalu letih untuk meniti harap di ujung cahaya yang berpendar.

“Bedul pindah ke LA, kamu tau Lus?”

“Aku tau Mas, barusan saja dengar, darimu”

Mas Tito sangat paham bagaimana aku, adik satu-satunya yang manja dan cengeng. Mas Tito melempar senyum, berusaha menyalurkannya pada bibirku. Namun aku hanya kaku, masih terkejut mendengar penuturannya.

“Bedul bosan sama Lusi di sini, dia gak punya teman selain Lusi. Tapi Bedul gak paham kalau Lusi di sini juga cuma punya dia, Mas.”

Seiring air mata yang turun di sisi wajah, aku hanya mampu menatap hujan di balik jendela kamar. Menyisakan Mas Tito yang berdiri di depan pintu tanpa niatan masuk menghampiriku.

“Mas yakin kamu paham apa yang kamu katakan sendiri, Lusi”

Mas Tito berlalu, kini tinggal aku dengan hujan yang bertalu memukul tanah. Membentuk kolam kecil yang banyak dan penuh. Air hujan itu bening atau keruh?

Aku paham atas perkataanku, tentang keegoisan yang menyelimuti batin dan otakku. Aku berpura-pura tidak paham karena aku tidak mau disalahkan. Cukup sekali saja kehilangan aku rasakan kala kusaksikan nyawa Ayah dan Ibu meregang di balik kemudi.

Pada hari-hari selanjutnya, yang aku ingat hanyalah tertawa dan menangis sesuka hati. Berbicara pada Bedul yang benar-benar berada pada ilusi. Aku terlalu merindukan sosoknya.

Sesekali, kudengar suaranya di belakangku ketika kusiapkan makan malam. Rutinitas yang biasa kami lakukan sebelum dia pergi. Bedul yang sendiri selalu menjadi tamu untuk makan malam yang tersaji di atas meja.

Kadangkala, aku dengar deru motor di halaman rumahnya. Berharap kalau-kalau Bedul pulang dan mengatakan betapa rindunya dia terhadap aku.

Namun nihil. Bedul benar-benar hanya menjadi imajinasi. Teman yang hilang setelah kabar kepergiannya ke luar negeri.

Perasaan yang belum terbalaskan karena tak dapat aku sampaikan.

Air mata tak bertuan yang datang dengan kata aku terluka, aku sakit dan aku rindu.

Beberapa minggu, seseorang berpakaian putih datang menyapa. Dia bilang dia dokter, Namanya Angga. Dokter Angga. Aku dengar dia berbicara dengan perawat di sampingnya, cantik sekali. Seperti malaikat, tapi aku belum pernah bertemu malaikat.

“Sudah bisa mengontrol emosi dengan baik, dia mengalami perkembangan yang cukup bagus”

“Sudah mau makan sendiri tanpa menyebut nama Bedul”

“Rajin minum obat sehingga halusinasinya berkurang”

“Lusi mengidap skizofrenia, sudah lama, sejak SMP”

“Lusi punya teman khayalan, dalam pikirannya saja”

“Namanya Bedul, dan Tito”

END

 

EKA ASTRI DEVI
26 Februari 2019
Nama tokoh: Harumi Y. Muhir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *