Islam dan Sastra; Sebuah Perjalanan yang saling Berkaitan

Adalah hal yang menarik diperbincangkan jika berbicara perihal sastra. Sebuah refleksi atas kehalusan suatu tindakan yang acap kali enak dipandang, diperdengarkan dan atau dirasakan. Hal ini menyatakan bahwa sastra bukan sekadar perihal karya yang efektornya sebagai barang yang layak dipertontonkan atau diperjual belikan, lebih jauh dari itu sastra sendiri merupakan bagian penting dalam setiap tapak kaki manusia baik sebagai penciptanya atau sebagai penikmatnya.

Menurut Sumardjo & Saini (1997 : 3-4), sastra merupakan perwujudan, ungkapan, juga pernyataan mengenai pribadi manusia terkait pengalaman, pemikiran, suasana hati, ide, semangat dan keyakinan akan sesuatu hal dengan alat bahasa. Hal tersebut menjadikan sastra sebagai pribadi yang memiliki ide, semangat, kepercayaan atau keyakinan, ekspresi atau ungkapan, bahasa dan bentuk. Pemaparan Sumardjo dan Saini tersebut juga diperkuat oleh Saryono (2009 : 16-17) yang mengatakan bahwa sastra juga alat perekam tersendiri terhadap pengalaman-pengalam diri yang menjadi saksi dan komentator secara tidak langsung terhadap kehidupan manusia.

Dewasa ini cakupan perihal sastra merambah begitu cepat dan sangat luas. Termasuk dalam peta yang teraliri sastra secara luas adalah daerah-daerah Islam. Sebagaimana hal yang sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa sastra dan agama adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, artinya antara keduanya merupakan hal yang saling berkaitan. Sastra merupakan bagian dari agama dan agama merupakan bagian dari sastra. Ada banyak sekali nilai-nilai yang hidup dalam agama dan dapat menghidupi sastra menjadi begitu mempesona secara bahasa. Dengan hidupnya sastra dalam setiap era kehidupan yang mengandung setiap nilai-nilai dan moral keagamaan, penikmatnya bakal lebih tertarik dan dapat memahami poin-poin keagamaan tertentu lewat sastra secara baik, terlebih penerima merupakan pecinta sastra yang sudah akut. Kecintaan pecinta sastra yang sudah akut tentunya dapat berefek terhadap penerima-penerima sastra lain di sekitarnya. Hal ini menjadi kekuatan sendiri terhadap keberadaan sastra untuk terus mengekspresikan diri dan aktif tumbuh di masyarakat.

Sebagai satu hal penting yang termasuk dari salah satu unsur sastra, agama menjadi unsur tersendiri yang eksistensinya tidak pernah surut di dunia ke-sastra-an. Sebaliknya agama justru menjadi cambuk dan kadar kualitas tersendiri bagi bobot suatu karya sastra. Suatu karya sastra akan dapat dianggap biasa atau baik tergantung pesan-pesan yang disampaikan sastra tersebut, artinya -dalam hal keagamaan- semakin epik suatu nilai agama yang disampaikan dan kualitas serta keshahihannya terhadap kaidah-kaidah yang berlaku –dalam agama-, semakin epik pula suatu karya sastra. Terlebih jika sastra tersebut dibungkus dengan bahasa dan kalimat yang jelas, lugas dan bermakna. Menjadi satu keelokan dan kecantikan tersendiri bagi dunia ke-sastra-an.

Dalam hal keterikatan agama dan sastra, agama tidaklah secara jelas menolak dan atau tidak terima terhadap perkembangan dan pertumbuhan sastra terhadap agama. Hal ini terlihat secara nyata dengan menjulangnya berbagai sastrawan-sastrawan yang menebarkan karya sastranya yang wangi dengan nafas-nafas keagamaan, termasuk Islam. Karya-karya sastra tersebut pun tidaklah menciut dalam satu pojok bidang saja. Ada banyak karya yang terus beruntun dan terus menghembuskan nafas Islamnya. Novel, puisi, syair, buku-buku non fiksi dan sastra-sastra lainnya. Hal tersebut tentu sangat memberi keberkahan dan kemanfaatan tersendiri terhadap penerima sastra -baik bagi penikmatnya atau bukan- yakni, dalam peningkatan wawasan dan pengetahuan perihal nilai-nilai agama.

Berbicara soal sastra dan agama, Islam mendapat apresiasi tersendiri terkait pengaruhnya terhadap dunia sastra di Nusantara. Pada awal masuknya Islam ke Indonesia, akulturasi kebudayaan Islam dengan kebudayaan Nusantara berlangsung secara baik. Hal inilah yang akhirnya melahirkan karya-karya sastra yang lebih dikenal dengan sastra Islam .

Dengan merajalelanya sastra Islam di dunia sastra mencerminkan akan agama yang tidak menganggap buruk terhadap sastra. Hal ini menjadi lampu hijau akan perkembangan dan pertumbuhan sastra terkait agama yang akan terus meningkat dengan baik. Peningkatan perkembangan dan pertumbuhan sastra tersebut juga tampak dari respon masyarakat yang menangkap baik setiap karya-karya yang tumbuh di lingkungan sosial.

Lingkup sastra Islam juga tidak meringkuk dalam cakupan literatur saja, seperti goresan-goresan fiksi dan nonfiksi. Sastra Islam juga merebah secara luas dalam cakupan karya-karya peradaban yang tidak cukup sekali dua kali menjadi titik corong bagi sastra Islam itu sendiri. Hal ini dibuktikan dengan berbagai macam peradaban-peradaban Islam yang corak sastranya sangat lekat akan nilai-nilai Islam.

Kemajuan sastra Islam tidaklah bermulai sejak satu-dua dekade kemarin, melainkan sejak beratus-ratus tahun lalu. Pada masa Islam menjejaki kekhalifahan, sastra Islam juga bertumbuh dengan pesat. Syair-syair duduk secara terhormat dan terpandang. Begitu juga dengan prosa, fiksi, drama, dan lain sebagainya. Keadaan karya-karya sastra yang dipandang terhormat ini tentu sangat mempengaruhi derajat seseorang pada masa keemasan Islam tersebut. Seseorang akan dilihat lebih terpandang dengan kemampuannya menciptakan dan memainkan karya sastra secara baik, karena hal itulah karya-karya sastra Islam terus berkembang dan bertumbuh secara baik di masyarakat sosial sampai sekarang ini.

Di era yang sangat modern sekarang ini, dimana sastra Islam secara baik terus bertumbuh dan berkembang, Islam sebenarnya secara natural telah memberikan pelajaran mengenai dunia ke-sastra-an begitu jelas. Hal ini terpampang jelas dalam firman Allah SWT, Al-Qur’anul Kariim.

Al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang sangat dipenuhi dengan keindahan sastranya. Pemakaian bahasa yang sangat rapi dan tidak mampu ditiru oleh siapapun, kisah-kisah para hamba-Nya yang dibungkus begitu rapi dalam setiap bagian firman-Nya, dan berbagai keajaiban sastra lainnya. Kisah-kisah yang diceritakan Allah SWT dalam Al-Qur’an tidaklah sekadar dongeng. Allah menceritakan dalam firman-Nya mengenai segala aspek kehidupan. Permulaan penciptaan manusia, kisah petualangan yang luar biasa, kisah penuh hikmah dan kuasa-Nya, kisah dengan pelajaran dan pengetahuan baru, penemuan-penemuan karya ilmiah, dan lain sebagainya.

Tidak berdasar kisah-kisah yang terkandung dalam al-qur’an saja, gaya bahasa al-qur’an merupakan sastra tersendiri. Al-qur’an diturunkan oleh-Nya dalam bahasa Arab, tapi tidak seorang pun yang dapat meniru dan mengubah bacaan al-qur’an bahkan seorang ahli bahasa Arab.

Keseluruhan keajaiban yang telah Allah karuniakan tersebut membuktikan betapa agama dan sastra begitu kental dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya tidak dapat dipisahkan, baik sejak terciptanya alam semesta, masa keemasan Islam, ataupun di masa mendatang.

*Mutiara Senja: Menulislah! Kau akan mati, tapi tidak dengan tulisan-tulisanmu.

Karya : Mutiara Senja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *