Nostalgia Kehidupan Super Hemat

Bagi kita yang masih menempuh jenjang berjuang dalam gelanggang kemerdekaan finansial, pasti pernah mengalami momen mode hemat. Suatu momen yang sulit untuk dilupakan seperti melupakan mantan.

Saya berani bilang bahwa orang yang belum pernah merasakan hidup hemat merupakan orang yang kurang warna kehidupannya. Sama kayak orang belum pacaran. Yah, kalau kita analogikan mereka yang tidak pernah merasakan hidup hemat, mungkin tergolong anak sultan atau keluarga kaya turunan, yang biasa kita kenal dengan kaya tujuh turunan. Tapi kita bisa percaya, jika kita pernah mengalami hidup super hemat, kelak kita bisa menjadi orang yang menghargai harta dan mudah iba saat melihat mereka yang kasta ekonominya di bawah kita.

Senior-senior saya di pondok (saya tidak menjumpai masa itu) pernah bercerita tentang masa-masa sulit zaman mondok dahulu. Dari makan nasi, minyak jelantah yang ditaburi garam, dan remukan kerupuk sebagai menu makanan sehari-hari di pesantren. Walau tidak sama persis dengan yang senior saya alami dulu, tapi selama di pesantren, saya merasakan makan nasi dengan sayur kangkung/sawi, ditambah tempe triplek (karena irisan tempe sangat tipis menyerupai kayu triplek) sebagai menu tiap pagi dan malam. Memang begitu monoton lauk yang disajikan di pesantren. Namun selama nyantri, saya dan teman-teman tidak merisaukannya karena kami menganggap hal tersebut adalah bagian dari tirakat.

Momen super hemat dalam hidup saya adalah ketika hidup di pesantren. Orang tua saya merasa tidak perlu memberi pesangon banyak karena urusan makan sudah ditanggung dalam SPP pondok. Jadilah uang pesangon saya dalam sebulan tergolong minim. Sebagai anak yang hanya menerima uang, saya tidak bisa protes. Tetapi minimnya pesangon saya rasakan tiap kali akhir bulan, apalagi bertepatan ajakan kawan-kawan pada malam tertentu untuk nongkrong. Beuhh, harus sedia dana banget sampai minta hutangan teman kamar sebelah.

Salah satu cerita super hemat, ketika saya sedang mengidap kanker (kantong kering) alias sedang bokek. Pada saat makan malam pondok, ketepatan nasinya ludes tuntas, sayur cuma tinggal kuah, lauknya habis. Alhasil, otak harus dikuras dan tenaga dimaksimalkan untuk mengais sisa-sisa makanan teman-teman yang kenyang sebelum jatah makanannya habis. Dalam hati, saya ingin menghibur diri dengan ucapan: “Perjuanganmu takkan pernah dilupakan sodara”. Jangankan makan enak, ngincipin lauk ayam aja nunggu ada teman ada sambangan (kunjungan ke pesantren, biasanya oleh orangtua, keluarga, atau kerabat santri).

Masa Aliyah yang penuh dengan penghematan itu membuat kebiasaan kuliah saya jadi tergolong ciamik dalam mengatur keuangan. Saya seringkali mengingat-ingat jikalau ada teman yang baru datang ke kosnya setelah pulang dari kampung halaman. Nah, disitu ada rejeki min haitsu yahtasib. Yang jelas pada hari itu saya bisa kenyang tanpa mengeluarkan uang kecuali untuk isi bensin ke kos teman tadi.

Saya kira, saya sudah termasuk golongan yang kompeten dalam menghemat pengeluaran uang. Eh, ternyata saya juga punya tetangga kos yang memiliki hobi serupa tapi tak sama. Dia suka menghemat uang untuk urusan makan. Dia membawa beras dari rumah dan menanak nasi sendiri, sedangkan lauknya ia beli di warung sebelah dan itupun hanya lauk pramuka (tahu-tempe) yang tidak sampai lima ribu rupiah. Ampun banget hematnya.

Lain kesempatan saya berniat silaturrahmi dan ngajak makan bareng karena saya baru kembali dari kampung halaman dan membawa lauk ayam. Di saat itulah saya bertanya kenapa kok kehidupan hematnya begitu ekstem? Ia berterus terang bahwa ia menginginkan beli banyak buku untuk belajar banyak hal yang tidak ada di pesantrennya dulu. “Gila banget nih anak !” ucap saya dalam hati. Memang sih, ketika saya masuk kosnya banyak buku-buku yang tersusun rapi, dari buku tentang revolusi, kapitalisme, sosialisme, sejarah, bahkan tak jarang kitab kuning ada juga di kamarnya. Mantab jiwa cintanya pada ilmu.

Terkadang, kita memang mengorbankan sesuatu demi mendapatkan sesuatu. Kalau pepatah jawanya bilang jer basuki mawa beya (sesuatu takkan dapat dicapai tanpa pengorbanan). Hematnya teman saya itu tergolong tidak umum. Mungkin perjuangannya menahan lapar untuk giat belajar dengan menimbun dan mempelajari banyak buku untuk dikilokan dibaca adalah baik, tetapi alangkah baiknya jika bisa memilih suatu kebiasaan yang seimbang bagi kondisi tubuh. Tubuh juga punya hak diberi gizi baik, loh! Jangan salah.

Apakah pola hidup super hemat haram hukumnya? Yah, soal halal-haram jangan tanyakan pada saya, coba tanya nuranimu untuk hidup hemat. Sah-sah saja kok jika hemat sudah menjadi jalan ninja hidupmu. Khususnya jika kita masih bujang, belum dapat pekerjaan, dan belum menanggung hidup siapa-siapa. Tapi, plis, catat. Jangan pelit pada orang yang membutuhkan. Karena hemat dan pelit itu mirip, tapi tolong jangan disamakan.

 

Karya : Dzikrul Hakim Tafuzi Mu’iz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *