“CUK”

 

“Lapo, Cuk?”
Surabaya. Ketika pertama kali saya sampai di kota pahlawan ini, saya mendapatkan sambutan hangat dengan sapaan “Hei, Cuk” dari teman-teman. Yeah, segores senyum dan sedikit mengangguk saya mengiyakan sapaan itu. “Mungkin hanya sekedar sapaan akrab.” Batin saya. Namun ternyata tidak sekali, hampir setiap akhir dari obrolan mereka pasti menyematkan kata ‘cuk’ di akhirnya. “Yaopo, Cuk?”, ”Nangdi, Cuk?”, “Onok korek tah, Cuk?”, “Kon gak mangan tah, Cuk?” dan cuk-cuk lainnya.

Lantas bagaimana? Sebagai pendatang yang tak tahu menahu tentang hal itu, mungkin sambil nyengir dan mengiyakan saja apa yang teman-teman ucapkan. Sempat saya membangun persepsi, bahwa mungkin saja kata ‘cuk’ adalah sinonim dari kata ‘bro’. Karena kata ‘bro’ juga kerap kali digunakan sebagai sapaan akrab untuk seseorang, dan penggunaannya pun selalu di akhir obrolan. Ya mungkin begitulah hipotesis untuk kata ‘cuk’.

Menurut teori Behavioristik, “Sikap atau perilaku seseorang adalah bentukan dari Sosio-Cultural yang menjadi bagian hidup dari setiap orang.” Mungkin lebih jelasnya adalah bentukan lingkungan. Tapi kan supaya keren, boleh lah pake bahasa ilmiah dikit, hehe. Beberapa bulan hinggap di kota dengan intensitas panas matahari yang cukup tinggi, akhirnya dengan mudahnya istilah ‘cuk’ melekat di ujung lidah saya. Mungkin karena saking panasnya jadi membuat bibir jadi lebih lembek dan spontan berucap ‘cuk’.

Kata ‘cuk’ seperti menggema dimana-mana, di warkop ada, di kampus ada, di warung ada, di jalan ada dan sepertinya di semua tempat ada. Mungkin saja karena pengucapannya gratis tidak dipungut biaya, jadi melempar kata untuk menyenangkan diri pun tak apa-apa.

Berjalan beberapa bulan saya pun masih memegang erat hipotesis yang saya sematkan sendiri. Tak ayal saya pun menganggapnya biasa. Bukan hanya saya, beberapa teman yang memang berasal dari luar pulau jawa pun merasa asik-asik saja dengan ucapan itu. Kurang lebih seperti anda memberikan saya sebuah gelang dan saya merasa senang. Saya pun mengenakannya kemana saja.

Ketika tengah mencari literatur mengenai tugas kuliah, tiba-tiba muncul sebuah artikel. Yang menarik perhatian saya adalah tulisan “CUK” dengan huruf kapital dan dibold. Mm, sepertinya cukup menarik. Setelah dibaca, ternyata artikel itu berisi sejarah dan arti kata ‘cuk’.

Saya mungkin agak kaget dan tertawa terbahak-bahak di dalam hati setelah membaca literatur tersebut, bahwa sebenarnya cuk adalah bentuk umpatan. Bagaimana tidak? Sebelumnya mengira hanya sekedar sinonim kata ‘bro’ (brother) yang artinya saudara. Beginilah jika mengandalkan teori dan hipotesis sendiri yang didasarkan atas persepsi tanpa mencari informasi lebih mendalam.

Jika kita menelisiknya dari segi historis versi belanda, maka kata ‘cuk’ atau lengkapnya ‘jancuk’ berasal dari kata Jan Cox. Jan Cox adalah seorang pelukis ternama kala itu. Layaknya seorang penggemar, maka salah satu prajurit Belanda mengukir nama Jan Cox di badan tank. Ya begitulah kalau sudah jadi penggemar, sama seperti orang-orang sekarang yang banyak mengoleksi foto-foto artis Korea, hehe. Akhirnya orang-orang yang melihat pun mengatakan Jan Cox atau jancok.

Menurut penelitian Jaseters, kata ‘jancok’ yang berasal dari bahasa jawa merupakan sebuah ungkapan kekecewaan yang berlebihan kepada seseorang. Kata jan yang artinya benar-benar atau teramat sangat, dan cak yang artinya kakak atau senior. Jadi menurut Jaseters, jancok adalah kata yang digunakan untuk mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan yang amat mendalam.

Nah, kalau ini yang versi Jepang, bahwa kata ‘jancok’ berasal dari kata ‘sudanco’ yang sering diucapkan oleh tentara Jepang ketika masa romusha atau kerja paksa. Sudanco artinya Ayo cepat. Arek-arek Suroboyo saat itu yang merasa kesal dengan perlakuan mereka, akhirnya memplesetkan kata sudanco menjadi jancok.

Dalam versi Arab, jancok berasal dari kata ‘da’suk’. Da’ yang artinya meninggalkan-lah kamu’ dan assyu’a yang artinya kejelekan. Jadi, Da’suk bermakna tinggalkanlah keburukan. Waah sangat masyaallah sekali. Hampir sama dengan sudanco, akhirnya pengucapan da’suk berubah menjadi jancok. Tapi arti jancok kali ini rasanya lebih baik dari sebelumnya, tapi mboh lah, yang penting kita tahu sejarah saja.

Di daerah Jawa Timur, khususnya di Surabaya, kata jancok merupakan akronim dari “Marijan Ngencuk” (Ngencuk: berhubungan badan). Akhirnya istilah ngencuk yang sekarang bertransformasi menjadi jancok memiliki arti sebagai sebuah umpatan. Tapi kok orang di Surabaya sering ya ngomong jancok? mungkin saja mereka memegang erat jejak historis jancok versi arab, jadi santai-santai aja ngomongnya, hehe.

Ya begitulah mungkin jejak sejarahnya. Di Surabaya istilah jancok memang sudah sangat lazim walaupun konotasinya mengarah kepada hal yang kurang baik, namun istilah itu dapat mempererat hubungan pertemanan. Contohnya adalah orang-orang di sekeliling saya, mereka akrab dengan kata jancok dan mungkin merasa ada yang kurang jika tak menggunakannya.

Dosa nggak? Yo nggak eroh aku. Yaa mungkin kalo saya menggunakannya seperlunya saja, kalau memang teman yang akrabnya dengan sapaan seperti itu, yo ikut arus ae. Toh, masih ada sejarah dari istilah Arab yang bisa menjadi pegangan, heheh.

Tapi kalian jangan ngikut saya, ya. Cari versi kalian sendiri aja !

Surabaya, 15 Juli 2020

Mr.Bouty

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *