Saya Mengaku Kecewa dengan Kurikulum Kampus

 

Saya yakin, anda yang membaca tulisan ini pernah menjalani masa pendidikan di Sekolah Dasar (SD) saat masih umur kanak-kanak. Orang bilang masa SD itu penuh dengan pembelajaran dan menyenangkan. Belajar disiplin bangun pagi hari untuk berangkat sekolah, belajar berkomunikasi agar memiliki banyak teman, belajar adaptasi diri dengan beragam permainan, hingga belajar dengan guru di kelas. Apa pun yang kegiatannya, belajar adalah motif utamanya.

Setelah jenjang pendidikan sekolah dasar, ada jenjang pendidikan menengah pertama dan atas untuk peningkatan kepribadian dan pengetahuan si anak. Sekali lagi, hingga sekolah menengah atas pun semuanya (harus) dengan pembelajaran dan menyenangkan. Paling tidak di jenjang ini lingkungan sekolah akan memberikan tantangan bagaimana menaklukkan hati lawan jenis. Itu juga pembelajaran, belajar mengenal si dia. Pokoknya yang namanya sekolah itu masa-masa paling indahlah, kayak lagunya Chrisye yang walaupun rilisnya tahun 2002, tapi lagu ini jadi terkenal lagi gara-gara sinetron yang rutin ditayangkan stasiun tv “Satu untuk semua” setiap habis magrib.

Semenjak SD hingga jenjang menengah atas, para siswa diberikan beberapa mata pelajaran yang belum tentu semuanya disukai oleh siswa. Saya husnudzan saja, mata pelajaran yang diberikan lebih dari satu itu memang sengaja diberikan supaya siswa punya kesempatan mencicipi semua mata pelajaran agar nantinya siswa mengerti mana mata pelajaran yang sesuai dengan “lidah”nya. Jadi saat siswa memasuki jenjang pendidikan perguruan tinggi, mereka sudah punya pandangan ingin menekuni di bidang atau keterampilan apa.

Makanya pada pendidikan di perguruan tinggi, ada sistem jurusan supaya mendukung keterampilan dan minat para siswa yang telah mereka peroleh dengan beragam pengalaman belajar mulai dari jenjang sekolah dasar hingga jenjang pendidikan sekolah menengah atas.

Jika pendidikan di perguruan tinggi itu dimaksudkan untuk mewadahi para siswa yang telah lulus di sekolah menengah atas atau yang sederajat agar lebih mendalami bidang atau keterampilan yang mereka minati, lantas kenapa kurikulum pendidikan di perguruan tinggi tetap memberikan beragam jenis mata kuliah lain yang tidak semuanya menunjang jurusan siswa yang ia pilih.

Ambillah contoh pada pengalaman saya sendiri semasa kuliah. Saya sudah berniat untuk mendalami jurusan keilmuan yang telah saya pilih saat mendaftar menjadi mahasiswa. Pada kuliah umum (stadium general), dosen yang memantik dalam acara itu sudah mewanti-wanti bahwa sistem pendidikan di perguruan tinggi itu berbeda dengan sekolahan. Okelah saya bisa maklumi karena memang di kuliahan kita memiliki kebebasan untuk saling tukar dan tambah wacana. Di kelas perkuliahan, kita memang bisa bersama-sama “menelanjangi” suatu teori untuk digugat dan dipersoalkan.

Namun pada semester awal kuliah, saya mulai kecewa dengan kurikulum perguruan tinggi. Bukannya mulai dikenalkan dengan keilmuan jurusan, yang ada malah mata kuliah “dasar” yang sebenarnya tidak terlalu mendukung dengan keilmuan jurusan. Di samping itu, di semester dua kekecewaan saya malah bertambah. Malahan ada beberapa mata kuliah yang sebenarnya telah dipelajari semasa waktu sekolah dulu. Pengantar keilmuan jurusan yang saya pilih baru mulai dilaksanakan pada semester tiga.

Seharusnya pengantar mata kuliah jurusan sudah diberikan semenjak semester awal mahasiswa kuliah. Cukuplah stadium general memberikan arahan kepada mahasiswa agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan lingkungan pendidikan baru. Mata kuliah “dasar” dirasa tidak perlu diberikan karena itu buang waktu dan kasihan orang-orang seperti saya yang sudah sangat penasaran dengan keilmuan.

Bisa anda bayangkan bagaimana porak-porandanya perasaan ini. Niat hati dari rumah berharap akan disuguhi mata kuliah yang sesuai “lidah”, tapi kok dari awal semester sudah di-PHP. Makanya sampai saya menginjak semester tua segini, harap maklum jika saya belum juga cinta dengan jurusan saya sendiri.

Selain itu, tugas dari para dosen setiap minggunya adalah setiap kelompok mahasiswa menyetorkan makalah untuk dipresentasikan dan didiskusikan bersama. Nah momen inilah sang dosen mewanti-wanti supaya para mahasiswa bisa mengembangkan teknik menulis parafrase supaya makalah tidak memuat plagiarisme serta tulisan makalah sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia (EBI).

Saya menilai bahwa plagiarisme dalam penulisan makalah itu harusnya dimaklumi, entah dimaklumi oleh dosen atau juga oleh perguruan tinggi. Lha, gimana plagiat tidak bisa dihindari kalau mata kuliah yang diampu mahasiswa itu banyak. Dosen sih gampang saja cuma ngampu satu, dua, atau tiga mata kuliah. Malahan dalam semester tertentu ada saja mahasiswa yang kena giliran presentasi makalah hampir setiap hari dalam seminggu. Itu kapan bisa riset coba? Menulis parafrase lalu memberikan opini dalam makalah mana sempat dikerjakan sehari semalam.

Seharusnya mata kuliah yang dibebankan kepada mahasiswa tidak usah banyak-banyak. Menurut saya malah yang paling efektif itu mata kuliah cukup diberikan tiga sampai empat saja setiap minggu. Kalau mata kuliahnya sedikit, mahasiswa pun bisa memiliki waktu yang lebih untuk melakukan kajian, mencari referensi, menulis parafrase, bahkan mampu meramu beberapa pendapat ahli dalam suatu pembahasan materi dalam makalah.

Praktik yang berlaku saat ini adalah ada banyak mahasiswa-termasuk saya, yang melakukan klipping, ambil sana ambil situ tulisan orang atau dari buku yang penting makalah jadi dan materi bisa tercantum dalam makalah. Plagiat? ya sudah pasti. Lha, ini respon naluriah kami dari kurikulum kampus kok yang berikan tuntutan kepada mahasiswa.

Saya jadi kepikiran andai saja mata kuliah selama enam semester mahasiswa di kampus itu hanya memuat mata kuliah jurusan saja tanpa ditambah mata kuliah fakultas. Wah bisa-bisa si mahasiswa sudah ahli dalam bidangnya tanpa harus susah-susah kuliah hingga S3. Selain memakan waktu, biaya pun dimakan sama kampus hanya demi mahasiswa bisa mendalami keilmuan yang diminatinya.

Jadi nanti fakultas hanya sebagai divisi administratif dalam sebuah universitas. Tugasnya hanya mengurusi masalah administrasi program jurusan tanpa harus ikut campur menambah-nambah mata kuliah fakultas kepada mahasiswa yang lingkup kajiannya lebih luas. Biarlah program jurusan yang merencanakan rencana belajar sebagai pedoman akademik kegiatan belajar mengajar di kampus.

Saya khawatir jika mata kuliah fakultas tetap dibebankan kepada mahasiswa, mahasiswa jadinya tidak fokus dalam bidang yang ia geluti. Sekali lagi, mahasiswa rela merantau jauh-jauh ke kampus lalu bayar uang akademik adalah untuk mendalami bidang yang ia minati. Kalau mata kuliah fakultas tetap diberikan, apalagi mata kuliah “dasar” kepada mahasiswa, kasihan mereka nantinya bakal seperti saya yang awalnya penasaran menjadi risih hingga kecewa dengan kurikulum yang ada di kampus.

 

Oleh : Harlianor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *