Surat Cinta untuk Baginda

Wahai Baginda, masih pekat dalam ikatanku dan masih bergelayut di pelupuk mataku, sore itu, ketika semburat cahaya matahari akan tenggelam di ujung cakrawala, guru mengajiku mendikte tentangmu. Aduhai, sejuk nian cerita itu. Di sudut surau nan mulia untuk pertama kalinya aku mendengar namamu dan ternyata ketika aku masih belum mengerti apa itu cinta aku telah jatuh cinta kepadamu. Sama seperti Engkau telah mencintaiku jauh sebelum kelahiranku. Ternyata benar yang disampaikan oleh guru mengajiku di ujung kisahnya, mencintai seseorang yang dicintai oleh sang pemilik cintalah yang paling bahagia hatinya. Sejak saat itu cinta senantiasa membawa dan menghanyutkanku ke sebuah muara kerinduan. Bagaimana mungkin hati tak merindu, bagaimana mungkin hati tak ingin bertemu, meski diriku tak sezaman dengan uwais alqarni, sungguh cintaku itu sekuat cinta yang terpatri dihatinya, bila Uwais melangkah dari Yaman menuju Nabawi untuk bertemu denganmu, bila muazzin kesayanganmu Bilal bin Rabah jatuh pingsan ketika menyebut lafaz namamu yang agung, bila Abu bakar langsung lari ke rumahnya dalam keadaan bersedih hati menerima isyarat perpisahan dari kalam-Nya, maka aku dari sebuah titik yang jauh dari tempat dimana jasad muliamu berada, hanya bisa melepas gulungan dan menyelesaikan semua kerinduan itu d iatas sajadah.
Baginda, tenunan kata seperti apakah yang harus aku rajut untuk menulis secercah rindu itu kepadamu, perahu kertas seperti apakah yang harus aku layarkan ke lautan untuk mengirimkan surat cinta kepadamu, angin seperti apakah yang mampu menerbangkan bait-bait doa kepadamu, butiran air mata seperti apakah yang mampu membuat penduduk langit mengagumi kehebatan dan kesungguhan cintaku kepadamu, sejuta lamunan sejuta perenungan, aku memutuskan takkan berpaling darimu. Wahai Baginda, “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”, begitu sabdamu sampai ke telingaku langsung menghujam mengisi sebuah ruang kosong di dalam hati. Mungkin itulah sebabnya kenapa engkau begitu mencintai umatmu, sebab nanti di alam akhirat engkau ingin bersama-sama dengan umatmu, seharusnya seluruh insan yang beriman, tak boleh melupakan sabdamu yang agung, tidakkah mereka mengerti dan menyadari ada pesan di balik itu, bahwa siapa saja yang ingin bersama denganmu kelak, maka hendaklah ia mencintaimu dengan ayat-ayat cinta yang benar. Aku ingin mengabadikan setiap moment, moment dimana aku berada di puncak kerinduan tertinggi yang ku miliki, merobek secarik kertas lalu membiarkan ombak kerinduan menerjang dan tumpah diatasnya, menuliskan fatwa-fatwa cinta, seperti saat ini, aku larut dalam sujud yang lama, dan aku tenggelam dalam samudera rangkain kata yang sampai kapanpun tak akan mampu menyampaikan makna rindu dan cintaku secara utuh kepadamu.

Inilah maktubku, Baginda, yang terlalu banyak kata rindu di dalamnya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *