Catatan Kegiatan: Memperkenalkan Konsep Kelas Mandiri di Kaderisasi Tingkat Regional (KTR) CSSMoRA 2019

Sebagai koordinator departemen PSDM Nasional CSSMoRA, Kaderisasi Tingkat Regional (KTR) merupakan program kerja yang sudah mempertemukan saya dengan 11 orang peserta KTR Tengah di Yogya dan 22 orang peserta KTR Barat di Bandung. Pertemuan ini jelas pertemuan yang direncanakan. KTR merupakan salah satu program kerja PSDM Nasional yang telah direncanakan bahkan semenjak Musyawarah Kerja Nasional, April 2019 silam.

KTR sendiri telah menjadi program kerja PSDM Nasional semenjak periode Zeed Hamdi Rukman tahun 2018/2019 silam. Satu tahun pengalaman KTR jelas masih memberikan ruang tanda tanya bahkan bagi pengurus sekalipun. Apa sebenarnya tujuan KTR? Mengapa KTR dibutuhkan? Terasakah dampak KTR bagi anggota CSSMoRA?

Semua pertanyaan ini saya buru jawabannya baik kepada Rinaldi -Koordinator departemen PSDM 2018/2019, Zeed Hamdi -Ketua CSSMoRA Nasional 2018/2019, bahkan kepada penggagas KTR, Egi Agustian -Wakil Ketua CSSMoRA Nasional 2018/2019. Tak jarang pula nama-nama seperti Annas Rolli M., M. Zidni Nafi’, Haydar, dan M. Irkham Maulana, muncul di ruang chat saya, menanyakan perihal serupa.

Pengalaman lapangan tokoh-tokoh di atas, kemudian saya bandingkan dengan teori belajar, filsafat pendidikan, psikologi pendidikan, landasan pendidikan, dan teori kurikulum lainnya yang saya pelajari sebagai mahasiswa Teknologi Pendidikan di UPI. Setelah pertimbangan sana-sini, akhirnya kami bersepakat untuk memunculkan konsep kaderisasi baru yaitu konsep kelas mandiri.

Konsep ini lahir dari sebuah pemahaman bahwa peserta KTR yang disyaratkan berasal dari Angkatan 2017 dan 2018 tahun ini pasti lah bukan ‘gelas kosong’ lagi. Saya percaya bahwa mereka telah menerima ilmu dan pengalaman di PT masing-masing. Mereka adalah orang-orang yang sudah terbentuk pengetahuannya, sikapnya, bahkan softskill dan hardskillnya.

Konsep kelas mandiri memberikan ruang bagi para peserta untuk merumuskan tujuan bersama, membuat peraturan bersama, dan menyepakati susunan kegiatan bersama. Hal ini sedikit banyaknya menumbuhkan kesadaran peserta akan tanggung jawab dan kemandirian. Peserta adalah subjek dari kaderisasi, peserta bukan objek yang dikenai perlakuan. Imbasnya, tujuan dari KTR di tiap regional bisa berbeda tergantung dari tujuan individu, dan rumusan tujuan bersama di tiap regional.

Konsep kelas mandiri berangkat dari filsafat humanistik, dimana seseorang dianggap sebagai manusia yang memiliki motivasi dan tujuan pribadi. Teori humanistik memberikan ruang bagi tiap-tiap orang untuk berkembang sesuai ritmenya masing-masing. Selain itu, teori ini juga berimbas pada pemahaman bahwa “meaningful learning” tidak hanya terjadi saat sesi pematerian tapi di seluruh kegiatan KTR itu sendiri. Hal-hal tidak tercantum seperti shalat berjamaah, adab makan, pembentukan silaturrahmi, menjaga kedisiplinan, kepedulian pada orang lain dan lingkungan sekitar, bahkan kepekaan juga dapat dimaknai. Terlebih di masa dimana kolaborasi menjadi hal penting.

KTR menjadi bermakna, penting, dan berimbas pada anggota, ketika peserta KTR berhasil memaknai proses mereka di KTR dan mampu menjadi agen di PT nya masing-masing, dan mampu menjadi penyambung silaturrahmi dan kolaborasi antar PT. Jika dianalogikan kembali, pengurus tidak cukup menjadi gelas berisi. Gelas yang berisi akan kosong suatu saat jika isinya bocor atau dituang ke tempat lain. Oleh karena itu, harapannya KTR dapat membentuk kader yang menjadi mata air. Terus mengalir, menjaga kejernihannya sendiri, dan mampu memberikan kehidupan bagi sekitarnya.

Hal terakhir yang saya tunggu dari KTR ini adalah follow up berupa proposal kreatif yang ditugaskan kepada setiap individu. Hal ini merupakan output terukur KTR dimana seluruh proposal kreatif dari peserta akan dikumpulkan dan dibukukan untuk nantinya diserahkan kepada kepengurusan CSSMoRA Nasional periode 2020/2021 sebagai bahan pertimbangan pembentukan program kerja. Salah satu jawaban bagi masalah di kepengurusan nasional yang relatif tidak memiliki waktu panjang dari masa pembentukan kabinet sampai dengan pelantikan dan musyawarah kerja.

Semoga I’tikad baik KTR tahun 2019 ini tersampaikan dengan sebaik-baiknya penyampaian.

Bandung, 29 Oktober 2019

Matahari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *