Lantai Teratas, Gedung Tua Tak Berpenghuni

“Bagaimana untuk strategi besok bos?” tanya Jeksi. “Seperti biasa,” jawabku santai tanpa memandang wajahnya. Aku sedang menikmati kepulan asap dari rokok milikku. Bersantai di lantai teratas, gedung tua tak berpenghuni. Memandang gelapnya langit sambil membayangkan strategi besok. Besok misi akan dilaksanakan lagi. Misi menebar kebencian. Misi memecah belah umat.

Namaku Nico. Aku berasal dari keluarga yang tak harmonis. Kedua orangtuaku bercerai. Meninggalkan aku seorang diri tanpa rasa tanggungjawab sedikitpun. Aku hasil buah cinta mereka. Apakah mereka lupa? Hidupku tak karuan semenjak aku ditinggal orangtuaku. Mendapat makan atas belas kasihan para tetangga sejak usia 4 tahun. Aku tidak pernah merasakan bangku pendidikan. Berteman dengan orang-orang nakal menjadikanku pribadi yang sama nakalnya. Aku tak lagi tinggal di rumah itu. Aku pergi jauh merantau ke ibu kota. Mencari jati diri diusia yang tidak lagi muda. Hidup di ibu kota sangat keras. Segala hal dituntut untuk menggunakan uang. Tindakan negatif selalu menjadi pilihanku untuk bertahan hidup. Sejak kecil, aku tidak pernah diajarkan dalam hal beragama. Orangtuaku selalu pulang larut malam dalam kondisi mabuk. Tidak pernah sekalipun aku melihat mereka ke gereja, vihara ataupun masjid. Hingga aku tumbuh menjadi pemuda ateis. Ya, pemuda yang tak memiliki agama. Segala hal dilakukan dengan bebas. Tanpa takut sedikitpun akan berurusan dengan Tuhan. Tumbuh dikeluarga yang tak harmonis, membuatku benci akan kebahagiaan yang terpancar dari orang lain. Membenci umat mayoritas yang katanya mengedepankan kebersamaan umat beragama. Membenci orang-orang yang bersatu. Membenci negaraku sendiri yang katanya mengayomi semua warga negaranya. Aku merasa terbuang. Aku benci semuanya.

***

Sore ini, kegiatan kampanye sedang berlangsung di salah satu pantai yang ada di ibu kota. Bulan ini kegiatan tersebut sangat rutin dilakukan. Mengingat dalam waktu dekat akan ada pergantian pemimpin-pemimpin baru di negara ini. Berbagai partai hadir memberikan janji-janji mereka yang akan dilaksanakan apabila terpilih sebagai pemimpin baru. Beragam hiburan dilakukan dalam kampanye tersebut. Salah satunya pembagian hadiah menarik bagi sejumpah pengunjung yang datang. Semua orang yang hadir, menikmati acara ini. Tanpa mereka ketahui akan terjadi suatu pertumpahan darah yang mengerikan.
Aku bersama komplotanku menghadiri acara tersebut. Mengenakan pakaian muslim lengkap sebagai identitas. Saling melirik satu sama lain memberikan kode akan strategi yang dilakukan. Aku dengan keenam temanku mengangguk mantap. Ya, mantap mengeluarkan senjata tajam dari kantong celana. Menusukkannya pada siapa saja yang berada di depan kami. Keadaan sekitar berubah menjadi teriakan histeris. Semua orang berlarian berusaha menyelamatkan diri. Sebelum petugas kepolisian datang, kami telah lebih dulu kabur. Kembali ke perkumpulan. Lantai teratas, gedung tua tak berpenghuni. Kami sengaja menjatuhkan gantungan tasbih disetiap misi yang kami lakukan. Tujuannya tak lain adalah memecah belah umat. Kami merayakan kemenangan. Kemenangan akan keberhasilan menjalankan misi. Kepulan asap rokok dan minuman alkohol menjadi bentuk kemenangan kami. *** Keesokan hari, media terus mengabarkan berita terkait penikaman kemarin sore. Mencoba menganalisa kronologi. Tidak ada saksi dalam berita tersebut, karena saat itu semua orang sibuk dengan kebahagiaannya. Media juga menginformasikan sejumlah masyarakat yang menjadi korban. Semakin banyak korban, kami semakin senang. Setiap hari, kerjaan kami hanya bersenang-senang dengan kepulan asap rokok dan alkohol. Menyusun rencana untuk misi-misi selanjutnya. “Eh bro, minta duit lu dong. Gua laper nih,” kataku pada Charles. “Enak aja lu. Lu kan bos, harusnya lu dong yang punya banyak uang. Jangan andalkan duit kami mulu,” jawab Charles dengan intonasi suara yang agak tinggi. Dia melawan. Tidak terima akan sikapku yang selalu meminta uang dari mereka. Otakku seketika langsung memanas. Merasa senior membuatku ingin selalu dihormati tanpa menghormati. Keinginan yang egois. Kepalan tanganku langsung menghantam pelipis kirinya. Darah segar meluncur dari hidungnya. Tidak ada yang melerai. Mereka hanya menyaksikan. Menyaksikan temannya sendiri berkelahi. Hingga saatnya kami lelah. Kami mundur satu sama lain sambil membersihkan darah yang meluncur dari lubang hidung masing-masing. Charles pergi, disusuli kelima temanku. Mereka lebih memilih Charles. Hari ini, aku kembali merasa terbuang.

***

Duduk di pertigaan lampu lalu lintas menjadi rutinitasku beberapa hari ini. Melihat kendaraan yang berlalu lalang tanpa henti. Melihat sekumpulan orang yang menyeberangi jalan dengan tawa ceria. Seolah ada hal lucu yang membuatnya tak bisa menahan tawa.
Kapan aku terakhir kali tertawa seperti mereka? Sepertinya tidak pernah. Hanya tawa kebahagiaan di atas penderitaan orang yang pernah kulakukan. Tawa yang licik. “Permisi Mas, ini ada sedikit rezeki untuk buka puasanya hari ini. Selamat menjalankan ibadah puasa ya, Mas,” kata seorang lelaki sambil tersenyum. Ia menepuk pundakku. Menyadarkanku dari lamunan. Senyumnya begitu tulus. Terpancar aura baik dari dirinya. Aku hanya mengangguk sebagai bentuk ucapan terima kasih. Kemudian mengambil kotak makanan dari tangannya. “Mari Mas, assalamualaikum.” Ia berlalu. Aku tak menjawab salamnya. Hanya menyaksikannya pergi. Teryata, ia tidak sendiri. Ia bersama teman-temannya membagikan kotak makan tersebut. Menggunakan pakaian yang sama. Mungkin mereka anak organisasi, batinku. Kebetulan aku sangat lapar. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan tersebut. Hari-hari berikutnya, aku terus mendapatkan makanan dari organisasi itu. Di tempat biasa aku duduk menyaksikan kendaraan berlalu lalang. Ternyata, kegiatan ini hanya dilakukan selama sebulan penuh tepatnya di bulan suci ramadhan. Hingga saatnya hari idul fitri tiba, aku menyaksikan sejumlah umat muslim merayakan hari kemenangannya. Bersujud bersama di hadapan Tuhannya. Memohon ampunan akan dosa yang telah dilakukan. Saling bersalam-salaman, meminta maaf antar sesama. Beberapa dari mereka, kulihat ada yang menangis. Menangis haru atas kebahagiaan hari ini. Betapa beruntungnya mereka, betapa bahagianya mereka, batinku.

***

Tujuh belas Agustus tahun empat lima

Itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka Nusa dan bangsa

Hari lahirnya bangsa Indonesia

Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka

Selama hayat masing di kandung badan

Kita tetap setia tetap sedia

Mempertahankan Indonesia

Kita tetap setia tetap sedia Membela negara kita
Nyanyian merdu dari paduan suara terdengar jelas dari dalam stadion. Aku menyaksikannya dari celah pagar stadion tersebut. Sesekali berusaha menyelinap masuk untuk menyaksikan secara jelas upacara kemerdekaan hari ini. Maklum saja, aku tidak pernah duduk di bangku sekolah sehingga aku tidak tahu bagaimana tata cara upacara biasanya. Semua orang yang ada di stadion ini memancarkan wajah kebahagiaan atas kemerdekaan yang dirasakan hingga hari ini. Pakaian merah putih menjadi seragam dominan hari ini. Sedangkan aku hanya mengenakan pakaian kaos hitam dengan perpaduan celana jeans yang sudah lusuh. Penampilan layaknya preman. Upacara telah usai. Acara dilanjutkan dengan hiburan marching band dan undian hadiah kemerdekaan. Aku merasa bosan di tempat ini. Memilih keluar untuk mencari suasana baru. Berjalan tanpa tujuan. Ada satu pernyataan yang terus menggema di telingaku. Pernyataan yang disampaikan oleh bapak negara. Ia menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara pemersatu bukan pemecah. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa Indonesia itu unik karena keragamannya. Keragaman budaya, bahasa, adat istiadat, suku dan agama. Keragaman yang patut dibanggakan. Aku terus berjalan hingga berhenti di salah satu kajian yang membahas terkait keagamaan. “Sesungguhnya agama disisi Allah ialah islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi kitab, kecuali setelah mereka diberi ilmu karena kedengkian diantara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya (Al Imran : 19).” “Dan barangsiapa mencari agama selain agama islam, dia tidak akan diterima dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi (Al Imran : 85).” Aku menyimak semua perkataan dari sang ulama. Mencerna segala pernyataan yang kudapat hari ini. Pernyataan bapak negara sekaligus sang ulama membuatku berpikir keras. Sesekali timbul rasa dilema. Namun akhirnya aku mengangguk mantap. “Baik, ada yang ingin ditanyakan?” Suara mikrofon sang ulama terdengar hingga di tempatku berdiri. Aku mengacungkan tangan. Semua mata langsung menuju ke arahku. Menatap heran. Aku melangkahkan kakiku menuju tempat sumber suara itu berada. Masih dengan pakaian layaknya preman. Beberapa pasang mata kulihat ada yang takut melihatku. Mungkin takut aku bertindak yang tidak baik karena melihat penampilanku. “Ia mas, mau nanya apa?” Mikrofon itu kemudian diberikan kepadaku. Semua pasang mata yang ada di tempat ini menunggu kata yang akan keluar dari mulutku. Menduga-duga pertanyaan apa yang akan dilontarkan dari penampilan preman sepertiku.
“Saya ingin masuk islam, Pak. Tolong bimbing saya mengucapkan syahadat,” kataku mantap. Semua yang hadir sontak mengucapkan “Alhamdulillah.” Ya, hari ini aku resmi memeluk agama islam. Setelah puluhan tahun lamanya hidup dalam kebebasan. Hidup dalam kesesatan. Baru hari ini aku merasakan ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan. Kebahagiaan karena merasa tidak lagi terbuang. Melainkan diterima dengan ketulusan. Aku telah menemukan jati diriku. Jati diri menjadi seorang muslim. Aku sudah terlalu jauh melangkah, lupa akan arti hidup yang sesungguhnya. Allah memberikan hidayah-Nya padaku. Betapa beruntungnya aku. Dahulu, aku pembenci islam. Namun, sekarang aku sangat mencintai islam. Aku terlalu egois memandang islam dan negaraku sendiri, Indonesia. Keegoisan yang dipenuhi amarah akan kebencian. Maafkan hambamu ini ya Allah. Hamba memohon ampun dari lubuk hati yang terdalam. Agama dan Indonesia bagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Negara tanpa agama hanya suatu kesia-siaan, karena hakikatnya agama mengatur segala aspek kehidupan termasuk politik dan kenegaraan. Agama tidak hanya membahas secara pribadi. Melainkan manusia dengan Tuhan, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan makhluk lain. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Meskipun agama kita beragam, tetapi Tuhan kita satu. Di negara yang penuh keberagaman, semuanya patut kita hargai dan kita cintai. Kita jangan terlalu menuntut apa yang negara berikan kepada kita, melainkan apa yang bisa kita berikan pada negara. Tetap bersatu, jangan memecah belah karena itulah arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Sebaik-baik persatuan hanyalah Bhinneka Tunggal Ika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *