Senja di Bumi Pertiwi

     Lelaki itu menatap lurus. Mata tuanya tampak tak ingin mengatakan apa-apa. Membisu. Namun dada berumur yang tak kehilangan tegapnya meskipun tampak pipih itu sekan ingin menjelaskan banyak hal. Naik, lalu turun. Naik lagi, kemudian turun. Tampak teratur, keteraturan yang berat, seberat beban yang menghantam dadanya. Telak. Seiring usahanya mengendalikan gemuruh di dada, tangannya menelusuri kain hitam bertuliskan kutipan seorang reformis Mesir yang menempel di dinding kamar putrinya. Tangannya berhenti ketika mendengar suara pintu berderit dan kepala seorang wanita yang berarti dalam hidupnya menyembul di ambang pintu. Lelaki itu mencoba tersenyum. Bersikap seolah baik-baik saja. Perempuan itu mendekat. Menatap lekat sorot mata suaminya, mencoba menyelami dan memahami. Jemarinya menyentuh lembut pundak lelaki yang dalam setengah abad ini menemaninya. “Abah… sarapan dulu. Ibu juga sudah buatkan kopi, keburu dingin kalau dibiarkan terlalu lama.” Lelaki yang dipanggil Abah itu tersenyum lebih lunak. Sungguh, di saat-saat seperti ini, akan jadi apa dirinya tanpa wanita itu.
Pagi seperti biasanya. Mentari juga terbit seperti biasanya. Kehadiran embun yang bergelayut di daun, kumbang-kumbang yang mengerumuni kembang yang tengah mekar dengan ranumnya, dan angin yang bertiup sepoi saja juga seperti biasanya. Pak Bakri mulai mengayuh sepeda kumbang kesayangannya seperti biasanya dengan baju dinas dan tas cokelat setengah usang yang juga seperti biasanya. Guru sederhana itu terbiasa menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah tempatnya mengajar dengan mengayuh sepeda di jalan berlubang seperti biasanya. Pak Bakri mengayuh sepeda dengan perlahan saja, menikmati anugerah Tuhan berupa pagi dan senyum sang istri sebelum keberangkatannya yang masih melekat di ingatan. Seperti biasanya. Semua berjalan seperti biasanya. Sampai melewati perempatan jalan dekat sebuah kampus, semua berubah begitu saja; tak seperti biasanya. Bagi orang lain mungkin tetap seperti biasanya, tapi tidak bagi pak Bakri. Ia menghentikan sepedanya. Pandangannya lurus dan nanar menatap sebuah gerombolan yang tak jauh dari kampus. Tidak ingin berlarut-larut dalam kekecewaan, Pak Bakri kembali mengayuh sepedanya. Usianya memang tak lagi muda, tapi semangatnya mengabdi kepada negara lewat mendidik anak-anak tak mengenal kata tua. Pukul 06.50 Pak Bakri tiba di sekolah, namun tak bisa dipungkiri kenyataan bahwa dirinya masih memikirkan seseorang yang berada dalam segerombolan orang di dekat kampus tadi. Sebagai guru Pendidikan Kewarganegaraan, tak terbayangkan sebelumnya dalam benak Pak Bakri bahwa dirinya bercerita panjang lebar di depan anak-anak berseragam merah-putih tentang keragaman Indonesia di mana ada banyak agama, budaya, bahasa, dan lainnya, namun seseorang yang ditimang-timangnya sejak baru lahir dari rahim sang Ibu, ternyata bersebrangan dengan harapannya. Harapan bahwa anak yang ditimangnya itu tidak hanya dapat berbakti kepada dirinya dan ibunya, namun juga dapat berbakti kepada agama dan negeri. Padahal tidak kurang anak itu ditimang sembari diceritakan sejarah tentang negeri ini serta perjuangan bapaknya yang adalah kakek dari anak yang ditimang-timangnya tersebut bagaimana melawan penjajah, bagaimana mengibarkan sang Merah-Putih dengan berdarah-darah, bertaruh nyawa. Bagi Pak Bakri, anak-anak adalah obat, ketika memasuki ruang kelas, seketika saja perasaan kacau itu menepi dengan sendirinya. Pada saat jam pelajaran hampir usai, pak Bakri akan memberikan kesempatan untuk bertanya kepada muridmuridnya. Seperti halnya juga hari itu.
“Anak-anak, apakah kalian sudah mengerti apa yang bapak jelaskan? Jika belum, silakan bertanya. Suasana kelas hening. Sepertinya tidak akan ada yang bertanya. Hal ini sering terjadi sebagaimana kesempatan bertanya yang diberikan Pak Bakri pada hari hari sebelumnya. Melihat tidak ada tanda-tanda muridnya akan bertanya, Pak Bakri mempersiapkan diri untuk keluar dari ruang kelas. Merapihkan dan menggendong buku-bukunya. Namun belum sempat Pak Bakri mengucapkan salam, salah seorang murid yang duduk di bangku paling depan, pojok sebelah kanan, mengangkat tangan. “Saya, Pak. Saya ingin bertanya.” Ucap anak itu takut-takut. “Pak Bakri menoleh dan memusatkan pandangannya pada anak tersebut. Kemudian Pak Bakri meletakkan buku-buku yang digendongnya. “Silakan, Amir. Apa yang ingin kau tanyakan, Nak?” “Mmm…. Pak Bakri. Bukankah Indonesia merupakan negara demokrasi?” “Iya, betul.” Pak Bakri mengernyitkan keningnya. Pertanyaan itu sebenarnya pertanyaan yang mudah saja. Tapi Pak Bakri yakin pertanyaan itu bukan pertanyaan utama. Ada yang ingin diketahui lebih jauh dari anak itu. Pak Bakri menunggu. Menunggu anak itu melontarkan pertanyaan selanjutnya. “Bukankah kita orang Islam, Pak?” Pak Bakri hanya mengangguk, dan masih menunggu. “Lantas, mengapa Indonesia menganut sistem demokrasi? Bukankah demokrasi adalah buatan manusia dan kemauan manusia? Sedangkan Allah telah menurunkan al-Qur’an agar dijadikan sebagai konstitusi dan undang-undang?” Sesuatu yang keras secara tiba-tiba menghantam dada Pak Bakri. Tentu saja sesuatu yang keras itu bukan sebuah benda yang kasat mata. Tapi itulah yang dirasakan Pak Bakri. Pertanyaan anak itu menghantam dadanya secara telak. Pikirannya mengembara pada seseorang yang dilihatnya berada di antara gerombolan orang di dekat kampus yang ia lewati pagi tadi. Guru yang hampir seluruh kepalanya dipenuhi uban itu juga tak habis pikir; mengapa anak kelas 6 sekolah dasar bisa menanyakan hal yang demikian? Pak Bakri mengambil nafas dalam-dalam, mencoba melonggarkan dadanya yang terasa seperti terikat kencang oleh sebuah tali. “Mengapa Amir menanyakan hal itu, Nak?” Pak Bakri bertanya sangat lembut dan tatapannya penuh dipusatkan pada bola mata polos itu.
“Ibu Amir mengatakan demikian, Pak.” Ucap bocah usia 12 tahunan itu dengan polos saja. “Anak-anakku…. Indonesia memiliki beragam suku bangsa dan budaya yang kemudian berkumpul dan bersuara membentuk hubungan sosial yang akrab dan ramah tamah. Memupuk rasa kemanusiaan, saling menghargai, memahami dengan rasa kepedulian. Suatu sikap untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian. Indonesia juga memiliki berbagai penganut agama dan 300 suku bangsa. Coba kita renungkan apa yang terjadi apabila agama menjadi pembatas pergaulan yang akan mengurangi kerukunan dan benih konflik horizontal. Keberagaman itu hendaknya menjadi kekuatan untuk membangun tanah pertiwi.” Pak Bakri diam sejenak, menutup mata dan menghirup dalam-dalam aroma masa depan dari anak-anak didiknya. Tidak lama kemudian Pak Bakri melanjutkan penjelasannya sembari mengedarkan pandangan, menyapu seluruh mata-mata polos bocah-bocah itu. “Setiap orang harus memberi rasa aman kepada orang lain tanpa intimidasi….” Pak Bakri memotong kalimatnya, lantas tersenyum melihat wajah bingung tunastunas bangsa harapannya. “Intimidasi itu adalah tindakan menakut-nakuti.” Jelas Pak Bakri menjawab kebingungan murid-muridnya. “Sebab, kita harus saling menghormati untuk menjalankan aqidah dan ibadah. Kita harus memiliki jiwa nasionalisme dan pluralisme. Tiap individu harus saling menolong, meringankan beban, dan berempati, tanpa memandang suku, ras, maupun agama. Misalnya, saat ada seseorang yang membutuhkan sekantong darah, tidaklah perlu bertanya siapa pendonor darah itu, darimana sukunya, dan apa agamanya.” Tutur Pak Bakri penuh kelembutan. “Anak-anak, apa kalian tidak mau istirahat?” Tanya Pak Bakri mengagetkan wajah-wajah yang sedari tadi menyimak penuh penghayatan. “Eh, oh iya, mau, Pak.” Jawab anak-anak itu hampir serempak sembari mentertawakan diri masing-masing yang melupakan waktu istirahat. *** Tabligh Akbar sebuah organisasi keislaman bertajuk “Masirah Panji Rasulullah”di perempatan jalan yang berdekatan dengan sebuah kampus akhirnya dibubarkan (Sabtu, 3/8). Pembubaran dilakukan karena kepolisian tidak mengeluarkan izin resmi kegiatan tersebut.
Selain itu, ajang tersebut mendapat penolakan dari organisasi kemasyarakatan lainnya karena ideologi yang dibawanya tidak sesuai dengan Pancasila. Minggu sore yang sunyi, senja tampil sempurna, sembari menunggu kopi buatan istrinya, Pak Bakri membaca koran yang dibelinya dari Karno, seorang bocah penjual koran langganannya yang putus sekolah. Mata tuanya menelusuri kalimat demi kalimat dalam koran itu, kemudian ia diam sejenak dan melipat korannya. Detik terus berjalan, tidak seperti sore-sore kemarinnya di mana semakin sore senja semakin unjuk gigi, menyombongkan jingganya, namun kali ini senja seperti menyiratkan luka. Pak Bakri mengedarkan pandangannya ke langit, tidak berapa lama kemudian gerimis turun. Langit masih jingga, tidak mendung. Gerimis itu pecah dan berhamburan dari mata tua orang tua yang tengah menatap langit. Ingatannya mengembara pada gadis yang kemarin pagi dilihatnya bersama gerombolan orang di perempatan jalan dekat sebuah kampus. Orang tua yang puluhan tahun mengabdi untuk negeri sebagai guru itu kini merasa kehilangan anak semata wayangnya. Masa kecil dan lingkungan keluarga Hasna dalam berislam sangatlah terbuka terhadap budaya, tujuannya adalah agar menjadi muslim yang mencintai tanah air. Keterlibatan Hasna dalam salah satu organisasi Islam dimulai ketika ia dekat dengan seorang teman lalu mulai aktif dalam kegiatan masjid dan kampus, hingga pada klimaksnya ia menempelkan kutipan seorang reformis Mesir di dinding kamarnya. Keterlibatan Hasna dengan organisasi tersebut membuatnya sering merasa superior, sedangkan yang lain hanya orang rendahan, dan bahkan mentaghutkan orang yang tidak sepaham dengannya. Seorang perempuan yang lima tahun lebih muda dari Pak Bakri muncul membawa secangkir kopi dan teh. Ia duduk di kursi samping suaminya yang disekat oleh sebuah meja bundar sambil meletakkan kopi dan teh. Wanita itu kemudian merengkuh tangan suaminya, tersenyum manis. Senyum menguatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *