Dilematik Islam dan Sastra

Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi sebuah peradaban. Bahkan Islam memberikan apresiasi terhadap sebuah peradaban dan segala sesuatu yang erat berkaitan dengannya. Salah satunya adalah peradaban budaya yang sedikit banyak turut andil memberi warna dalam lajur sejarah Islam sendiri. Terkhusus kepada sebuah karya seni, yakni sastra.

            Dalam banyak literatur banyak dijumpai mengenai percaturan antara Islam dan sastra. Itu ditandai dengan banyaknya nama-nama yang dapat dijumpai dengan berbagai karya sastranya. Hampir pada setiap satu fan bidang keilmuan, sastra turut berperan menjadi salah satu ­­­­­­corak di dalamnya. Sehingga secara universal bisa disimpulkan bahwa Islam dan sastra memiliki ikatan dan hubungan yang sangat erat.

Salah satu bukti konkrit kaitan erat antara Islam dengan sastra adalah pada kitab suci Islam yakni Alqur’an. Dimana salah satu keitimewaannya adalah keindahan unsur bahasa. Bahkan hal tersebut diakui oleh para pakar bahasa. Juga tidak ada yang bisa ditiru maupun menyaingi akan keindahan bahasa Alqur’an. Juga masih banyak indikasi-indikasi yang lain.

            Demikian dapat dilihat dalam banyak karangan-karangan para ulama’ dan cendekiawan muslim, tidak sulit untuk mencari syair-syair. Mulai dari fikih, tafsir, nahwu, sharaf dan banyak bidang lainnya. Terlebih bidang tashawwuf yang sangat erat dengan namanya sastra. Beberapa nama sufi yang erat kaitannya yakni Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi,Rabiah Al-Adawiyah dan masih banyak lainnya.

            Bahkan beberapa nama juga muncul dari nusantara terhadap karya-karya sastranya yang memiliki kontribusi besar. Diantaranya Hamzah Fansuri yang banyak memadukan antara muatan tashawwuf yang disajikan dalam bentuk sastra. Juga seorang tokoh kenamaan dari daratan Sumatera, Buya Hamka yang hampir seluruh karyanya bermuatan tata moral dan nilai-nilai Islam dipadukan dengan sastra. Juga A. Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus yang sangat kental dengan suasana sastra dalam setiap tulisannya. Dan masih banyak lainnya.

            Oleh karenanya, muncul sebuah nama yakni Sastra Islam untuk meng-cover tersebut, sebagaimana juga istilah Sastra Barat. Pun begitu, pada beberapa waktu terakhir ini, problematika akan sastra kembali muncul. AN Faruk—Salah seorang pakar sastra Indonesia— mengatakan bahwa sastra tidak akan pernah bisa berjalan beriringan dengan Islam. Keduanya memiliki hubungan yang problematis.

            Selanjutnya juga dikemukakan oleh Abdul Hadi bahwa penyebutan dengan istilah ‘Sastra Islam’ merupakan satu tindakan yang mereduksi cakupan sastra. Baginya dengan munculnya istilah Sastra Islam menafikan sastra-sastra arab yang pernah ada sebelumnya. Padahal, jauh sebelum Islam datang daerah Arab sudah kental akan suasana sastranya. Sehingga akan sangat riskan manakala dengan meminjam istilah Sastra Islam akan membatasi cakupan tersebut.

Selain itu, mengenai kurangnya pondasi dan dasar mengenai kajian sastra menjadi salah satu pemicu polemik yang terjadi. Sehingga perlunya sebuah gagasan-gagasan yang mendasari kajian sastra, terlebih di Indonesia. Meskipun banyak institusi yang membuka sebuah program studi (prodi) mengenai sastra, namun hal itu belum bisa dikatakan sebagai sebuah pondasi bagi kajian sastra.

Lebih jauh lagi, kurangnya bagi wadah terhadap para pemerhati serta pengkaji sastra. Selama ini, hanya terwadahi dengan kelompok-kelompok maupun organisasi-organisasi yang sifatnya swasta. Dengan bahasa lain, belum terbentuk secara nasional. Sehingga mengenai pergerakan dan perkembangan akan kajian sastra belum banyak dijangkau oleh masyarakat umum.

   Juga minatnya dalam pengkonsumsian sastra oleh masyarakat luas. Beberapa dekade tahun sebelumnya, sastra menjadi sebuah hal yang banyak diminati oleh masyarakat. Ini terbukti dengan banyaknya karya sastra, baik berbentuk prosa, sajak, dan lain sebagainya. Juga beberapa nama legenda sastra yang ada di Indonesia misalnya Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Buya Hamka, dan sebagainya. Meskipun,  jika ditelisik lebih jauh di era sekarang ini muncul nama-nama tokoh yang dinilai mempunyai banyak sepak terjang dalam bidang sastra di Indonesia.

Di zaman modern seperti ini, media digital memiliki peran yang urgent dalam dinamika perkembangan sastra. Sebenarnya, ini juga yang sedikit banyak akan berimbas pada perkembangan dan dinamika sastra. Mengapa? Karena tidak semua masyarakat bisa menggunakan akses yang berbasis demikian. Sementara, kini ‘agak’ sulit untuk menjumpai sastra yang memang menjadi selera masyarakat serta mampu dicerna oleh masyarakat luas.

            Walaupun demikian, juga tidak sedikit yang pro dengan kajian-kajian sastra. Salah seorang tokoh Pluralisme Indonesia, Gus Dur merupakan salah seorang pegiat sastra yang aktif. Hal ini terbukti bahwa sastra menempati urutan keempat bacaan favoritnya. Juga banyaknya buku-buku sastra yang dimiliki olehnya. Bahkan, ketika menjabat sebagai Presiden pun, banyak ditemui buku-buku sastra yang berada di ruang kerjanya.

              Dengan melihat beberapa problem-problem tersebut diatas, pada hakikatnya akan membawa kepada satu pembacaan bahwa bagaimanapun sastra memiliki peran yang besar dalam perkembangan Islam. Pun demikian upaya terobosan dengan menyematkan nama ‘Islam’ dalam sastra, mengundang rekasi sejumlah pengamat dan tokoh sastra di Indonesia. Sejauh ini, cakupan sastra telah lebar dan juga imbas dari penyematan Islam hanya mempersempit sastra itu sendiri. Sehingga pro dan kontra ini terus masih bekerja hingga entah kapan menemukan titik temunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *