Sebelum Menjadi Debu

Sebelum Menjadi Debu

            Hampir satu jam Arum menghabiskan waktu di depan layar laptopnya. Ketik lalu hapus. Itu lah yang ia lakukan berulang kali. Akalnya mentok oleh kata lelah. Kata yang saat ini mengalir bersama darah menuju seluruh tubuh. Jam dinding yang menemani tampak lelah menyaksikan tingkah arum yang tidak jelas. Mondar-mandir tak tentu arah sambil menggenggam rambut ikalnya.

            Kertas putih yang semula tersusun rapi di atas meja belajar Arum, kini memenuhi lantai kamarnya. Berbagai bentuk yang Arum ciptakan. Mulai dari satu lembar utuh, guntingan, bola hingga serpihan kecil. Kegabutan bodoh ini menjadi darah daging di tubuhnya selama beberapa hari.

“Rum, aku bertemu pemuda aneh di trotoar menuju taman, kuperhatikan pemuda itu dengan penuh rasa penasaran. Kusaksikan ia menggunting sebuah kertas yang penuh oleh coretan tidak jelas. Pemuda itu terlihat murung. Ia berpakain lusuh. Tatapannya seperti hitam. Kupikir ia terlalu depresi” kata Maya memecahkan detak jam dinding malam itu.

“Aku tak peduli” jawab Arum ketus

“Aku tak meminta mu peduli. Hanya ingin bercerita. Mungkin saja kamu inginkan seorang teman yang depresinya tidak jauh beda denganmu. Karena sejak kemarin hingga hari ini, dan mungkin sampai esok, aku bukanlah teman sejawatmu. Untuk sementara kamu bisa berbagi cerita dengan pemuda itu.”

“sebodoh itu kah jalan pikiranmu? Mempertemukan 2 manusia yang sama depresinya?”

“Terpaksa tepatnya”

“tidak!”

“baiklah! Aku akan keluar dari tempat ini. Karena aku tidak menemukan Arum di sini. Percuma jika aku menunggu bertahun-tahun lamanya.

***

            Trotoar lusuh yang masih saja menemani warga pinggiran kota ini masih bersemangat kepada manusia. Miliaran manusia yang menginjak badannya, tak pernah ia protes. Rautnya masih segar akibat bahagia dengan apa yang menginjak badannya. Tak terpikir untuk mengeluh. Bahkan terus berharap manusia tetap menginjak badannya.

“Aku hanya ingin satu ruang. Dimana aku dan dirinya bertemu” mulai seorang pemuda bermata cokelat dengan rambut berantakan. Penampilannya sangat lusuh sambil memegang kertas di kanan kiri dan gunting di tangan kanan. Pemuda itu mirip dengan yang diceritakan Maya tadi malam.

“Maksudmu?”

“Ketika kakiku mengeluh kepada trotoar jalan ini, menggarang kelelahan bahkan mengganas. Hingga terasa oleh bibirku. Spontan saja umpatan itu keluar. Mata kakiku malihat trotoar tua ini tersenyum. Hatiku semakin jengkel, benda tua yang tidak berperasaan, umpatku di dalam hati.”

            Arum masih menikmati sehelai daun yang ia ambil dari guguran pohon akasia dekat ia duduk. Ia melipat daun itu lalu meluruskannya dan melipatnya kembali. Hingga beberapa sisi dauh menjadi bolong dan mampu menembus cahaya matahari. Arum berbisik dengan tenang “lanjutkan ceritamu!” bibirnya yang tertutup tak ingin mengisyaratkan kata itu. Mungkin kekuatan depresi yang menyampaikan perintah itu kepada pemuda berjaket dongker yang juga duduk di sampingnya.

“Pemuda yang malang, hidupmu sudah dipenuhi oleh gaya instan. Kau lupa alasan Tuhan menciptakan kakimu. Bukankah kaki ini diciptakan agar engkau berjalan di bumi dengan leluasa? Kau bisa menikmati pagi yang segar. Sesekali kau bisa duduk untuk mengumpulkan semangat yang masih menggebu. Kau harus tahu, aku akan bertahan di sini. Rela diinjak dan disakiti oleh triliunan insan yang tanpa perasaan terhadap punggungku. Sesekali perutku meraung karena mereka melompat dengan sadis di atas tubuhku. Belum lagi umpatan setan yang mereka lontarkan tepat di telingaku. Alasanku bertahan hanyalah hal sederhana. Aku hanya ingin menjadi saksi bisu atas senyum di masa tua setiap orang yang peduli dengan alam dan dirinya. Aku hanya ingin bermanfaat sebelum tubuhku semakin tua dan menjadi debu. Begitu kata trotoar tua ini kepada kakiku”

            Arum yang kala itu masih memainkan daun yang sama, beranjak dan berkata “aku akan bahagia karena trotoar tua ini aku menemukan sebuah cerita, aku akan menjadi saksi mungkin juga bisu atas senyum simpul yang manusia lukiskan di bibirnya. Akan kuceritakan kepada mereka bahwa Tuhan menciptakan jemari mungil ini menjadi teman duduk di saat mereka sepi atau bahkan bahagia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *