Rasa di Ujung Lara

BRAKKK…

Kali ini laptop lah yang melayang dengan mulus tepat mengenai dinding lalu hancur berkeping-keping. Entah sudah berapa lama hati itu kesal dibuatnya, jika saja hatinya sedang tenang hal ini takkan terjadi. Ternyata bukan hanya hati namun pikirannya pun rupanya telah lelah, entah mengapa rasanya sangat runyam jika hanya diungkapkan dengan kata-kata.

Hal itu tak berakhir sampai disana. Barang yang sudah hancur berkeping-keping itu kali ini sudah diinjak-injak lagi, dengan wajah brutal membabi buta ia tak mau tau tentang apa yang akan terjadi setelah itu, ia tak mau ambil pusing. Toh semuanya hanya akan sia-sia. Takkan ada gunanya lagi semua pengakuan dari hasil jerih payah pemikirannya. Takkan pernah ia dapati lagi barang sedikitpun kebahagiaan dari pekerjaan yang selama ini ia nikmati, semuanya tak lagi berharga, semuanya percuma.

Setelah hancur masih saja ia tak puas dengan leburnya barang di hadapan mata kepalanya. Lantas ia lari menuju dapur dan dengan bringas diambilnya sebuah penumbuk lesung yang biasanya digunakan oleh kakek-nenek buyutnya. Lalu melanjutkan memukul-mukulkan kayu ulin itu diatas rongsokan laptop yang sudah tak berdaya.

“Enyah kau, aku tak butuh kau lagi, dasar pembawa sial!”

Entah apa maksud dari kalimat pembawa sial yang ia ucapkan, padahal barang satu-satunya itu adalah alat kesayangannya selama ini. Namun mulutnya tak henti memaki-maki, sepertinya kemarahan itu sudah tersulut sampai di puncak. Sehingga luapan api pun sudah berkobar dalam kepalanya, sudah tak terbendung hingga berhasil menguasai pemikirannya. Ketika ia berhasil mengendalikan dirinya, ia tak sadarkan diri untuk beberapa waktu setelahnya.

Ditengah ketidak berdayaanya, seketika sekelebat pertanyaan muncul dibenaknya. Apakah ia sudah puas? Apakah rasanya sudah terbalas? Ataukah ia hanya mendapatkan sebuah kehampaan? Dan ia menyadari bahwa satu-satunya orang yang mampu menjawab sederet pertanyaan itu ialah dirinya sendiri.

***

Syahdan, ketika pertama kali mendapatkan benda segi empat berlayar itu ia sangat senang, ia timang layaknya kata-kata dalam sebuah iklan kecap “yang dirawat seperti anak sendiri”. Ia rawat dengan penuh kasih sayang melebihi benda-benda lain yang telah lama berada di sekitarnya. Baginya benda itu penting, karena memang pemberian dari sang kekasih. Dibawanya benda itu ke setiap tempat, dan nyatanya selain pemberian dari yang tercinta benda itu juga sangat berguna untuk membantu kelangsungan pekerjaannya di sebuah perusaan elit di Ibu Kota nantinya.

Berbicara masalah karir, sebenarnya ia hanyalah anak desa yang dengan percaya diri merantau ke perkotaan. Bermodal ijazah S1 dan uang seadanya ia nekat mendaftarkan diri di perkantoran ternama, dan seperti yang dapat dilihat dari kenyataan dia ditolak mentah-mentah. Hatinya gelisah, untuk pertama kali ia menyadari kekurangannya, lantas kembali ke kontrakannya lalu berbenah diri.

Beberapa hari selanjutnya kembali ia telusuri perkotaan modern dengan tampilan yang berbeda. Kali ini lengkap dengan jas dan sepatu mengkilap menghiasi kakinya, tak lupa pula dengan dasi melingkari leher kekarnya. Kali ini semuanya sempurna, takkan ada satupun orang percaya bahwa ia anak desa. Dan benar saja, berkas-berkasnya disambut dengan ramah, tanpa ada sedikitpun penolakan seperti sebelumnya.

“Kamu bisa mulai bekerja senin depan”.

Kira-kira itulah kalimat aliran petir di siang bolong yang diucapkan oleh kepala staf kantor. Butuh beberapa detik hingga ia sadar dan berterima kasih pada calon pemimpin kerjanya. Kemudian ia dipersilahkan pulang untuk mempersiapkan diri sebelum pekerjaannya dimulai beberapa hari kedepan.

Hati siapa yang tak gembira mendapatkan pekerjaan baru, apalagi di perkantoran elit, orang di kampung pasti akan berdecak kagum dengan prestasinya saat ini, lalu mulai mengelu-elukan namanya. Ah, membayangkannya saja sudah membuat tersenyum.

Tepat hari senin ia melangkah menuju perkantoran tempatnya bekerja. Meski hanya naik angkot dengan setelan resmi berjas ia tak kenal malu, toh siapa peduli dengan tatapan orang-orang disamping, meladeni mereka hanya akan memperpanjang masalah. Butuh sekitar 20 menit dan akhirnya ia turun membebaskan diri dari kepengapan kendaraan umum itu lalu dengan antusias memasuki kantornya yang ber-AC.

“Selamat pagi Pak”.

Seorang wanita menyapanya lembut, memang rupanya tak secantik artis-artis hollywood namun aura kecantikan memancar dari setiap kerlingan mata dan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Seketika ia menyadari satu hal bahwa ia harus membalas sapa wanita itu.

“Oh iya, Selamat pagi …”  Ia sengaja memperpanjang pagi dengan maksud bertanya nama wanita tersebut.

“Yuli Pak, panggil saja saya Yuli, Bapak pegawai baru kan di kantor ini, mari saya antar ke ruangan Bapak”.

Tanpa banyak ba bi bu, ia mengiyakan lalu mengikuti si Yuli ke ruangan yang katanya adalah ruangannya bekerja. Setibanya di depan pintu pojokan Yuli berhenti, lalu mempersilahkan masuk dan meletakkan barang-barang diatas meja. Ruangan itu mungkin tak terlalu luas namun tak juga terlalu sempit, pas lah untuk ruangan pekerjaan orang-orang perkantoran.

Setelah menjelaskan beberapa hal yang harus dikerjakan, Yuli pamit dan mempersilahkannya untuk memulai pekerjaan. Ini dia pekerjaannya yang sebenarnya, pekerjaan yang pas, pemimpin baik hati, ditambah juga rekan kerja pendukung, lengkap sudah kehidupannya di kota.

***

Sehari berlalu, seminggu dan sebulan bahkan setahun sudah ditempuh dengan jerih payah. Sedikitpun ia tak mengenal lelah apalagi hidupnya sekarang telah lengkap dengan mempersunting Yuli sebagai pendamping hidupnya. Bahkan alasan untuk bersedihpun ia tak punya, selama ada sang pujaan hati semua beban hidupnya dapat ia atasi dengan mudah.

Hari itu ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Benar saja selain memberikan laptop baru Yuli juga akan memberikan seorang buah hati baginya.  Yuli mengandung! Suami mana yang tak bahagia mendengar bahwa ia akan segera mendapatkan keturunan, dengan penuh haru dan bahagia ia menciumi kening istirnya.

Hari-hari selanjutnya ia jalani dengan penuh suka cita. Semua pekerjaannya terasa sangat meyenangkan. Meski Yuli sudah mengambil cuti beberapa bulan yang lalu, ia tak kendor dalam bekerja, semangatnya selalu membara, demi sang istri dan buah hati segalanya akan ia lakukan.

Sampai tiba-tiba Pak Direktur memintanya untuk datang ke ruangannya. “Ada apakah gerangan? apakah aku berbuat salah? kurasa pekerjaanku selama ini tak bermasalah.” Ia singkirkan perasaan batinnya untuk beberapa saat dan mengikuti atasannya ke ruangan.

“Untuk sementara waktu, tolong pergilah ke Singapura. Saya harus menghadiri rapat besar di New York, dan kebetulan berbarengan dengan pertemuan di Singapura.”

“Tapi Pak, saya harus menjaga istri saya, bagaimana saya bisa meninggalkannya seorang diri.”

“Yah kan bisa saja kau titipkan sementara pada mertuamu, kali ini saya percayakan semuanya padamu.” Keputusan Direktur kali ini tak bisa diganggu gugat.

Pulanglah ia membawa beribu lara menggelayut manja dalam hatinya. Setibanya di rumah si istri menyambut dengan ramah kedatangannya, dicuminya punggung tangan lelah sang suami, nampaknya terlihat jelas raut wajah itu tak tenang.

“Mas mandi dulu ya, nanti sehabis mandi ada yang mau Mas bicarakan”

“Baik Mas”

Langkah kakinya berat, pikirannya kacau, bagaimana bisa ia meninggalkan istrinya disaat ia hamil besar seperti itu, bagaimana jika terjadi apa-apa dengan istrinya selama ia pergi ke luar negeri. Seharipun tak dapat ia bayangkan, apalagi seminggu.

Malam itu akhirnya ia berdiskusi dengan istrinya. Selayaknya istri penurut Yuli tak banyak menolak, bahkan Yuli sangat mendukung dirinya dan pekerjaannya. Yuli pun tak keberatan jika harus menginap di rumah orang tuanya selama beberapa hari. Ah, mungkin tak apa jika ia tinggalkan seminggu, ia tak perlu khawatir, toh Yuli akan baik-baik saja di rumah orang tuanya.

Jadilah ia berangkat ditemani keyakinan yang sudah tertanam dalam dirinya. Pekerjaannya lancar. Seminggu bukan hal yang sulit, semuanya sempurna tanpa celah sedikitpun, istrinya nun jauh di seberang pulau pun selalu memberikan kabar positif setiap harinya.

Hingga hari terakhir pun tiba, setibanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta teleponnya berdering dan mati. Dilihatnya sudah ada sembilan belas panggilan tak terjawab dari ibu mertuanya, ia panik, jarang-jarang sekali mertuanya menelepon sebanyak ini. Bayangan istrinya tiba-tiba langsung membayang, apakah ini ada hubungannya dengan istrinya? Apakah terjadi sesuatu pada Yuli?. Seketika telepon berdering lagi, dan benar saja dari ujung sana suara ibu mertuanya terdengar sangat panik, dijelaskanlah kondisi istrinya yang memasuki rumah sakit karena beberapa saat lalu tergelincir di kamar mandi, pendarahan hebat yang tak dapat terelakkan terjadi.

Bagai orang mabuk ia berlali sekencang mungkin melewati kerumunan ramai orang-orang. Tak ia pedulikan lagi teleponnya yang masih bersambung dengan mertuanya, lantas memanggil taksi lalu segera meluncur ke rumah sakit tempat istrinya tengah berjuang. Perasaanya kalut, panik, tak dapat tebantahkan mengelilingi hati dan pikirannya. Bagaimana tidak, nyawa anak dan istrinya sedang terancam. Saat itu ia tak bisa melakukan apa-apa, entah berapa ratus tetes air mata mengalir deras ke pipinya, kesedihannya tak dapat ia pungkiri, dan ia mulai berandai-andai. Jika saja ia tak pergi, jika saja ia tak meninggalkan istrinya, semua ini tak mungkin terjadi, nyawa anak dan istrinya tak akan terancam seperti ini.

Setiba di rumah sakit lagi-lagi ia disambut derai air mata oleh mertuanya. Dilihatnya mata itu sudah sembab. Tetapi bukan itu yang ingin lihat saat ini, yang sangat ingin dia lihat saat ini hanya Yuli dan anaknya. Tanpa banyak bicara ia memasuki ruangan istrinya, dilihatnya tubuh itu terkulai lemas, meski masih dapat ia lihat jelas senyuman tersungging untuknya disana, dipeluknya istrinya dengan sayang, ia belai, ia cium keningnya.

“Anak kita perempuan Mas. Tetapi maaf aku tak dapat menyelamatkannya, oh iya sebelum ia pergi aku telah memberinya nama Ananda Putri Siregar. Indah kan Mas, nama belakangnya juga kuambil dari namamu, agar kelak ia mengenali ayahnya di ujung masa”.

Ia tatap wajah istrinya sekali lagi, tapi kali ini mata itu telah tertutup. Kata-katanya beberapa saat yang lalu terasa hanya seperti mimpi. Dia guncang pelan istrinya sekali lagi, ia panggil nama istrinya, namun nihil, tubuh itu sudah tak bernafas. Istrinya telah menyusul anaknya. Kini ia hanya seorang diri, takkan ada lagi belahan jiwa disisinya. Takkan ada lagi senyum hangat Yuli dalam hari-harinya, semuanya telah direnggut paksa oleh alam.

Selamat tinggal Yuli…

Selamat tinggal juga anakku…

Dan sekarang dunianya, dirinya, serta hidupnya sudah tak berarti lagi.

Oleh : Nurhadijah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *