NAMANYA KIRANA

Wanita mempunyai sisi kecantikan masing-masing
Maka, syukuri apa yang kau miliki saat ini
Kelak, Tuhan yang memastikan syukurmu kembali
Dalam bentuk yang lebih baik.

Kirana. Sebuah nama singkat yang entah didapat dari mana. Mungkin kedua orang tuanya sedang dimabuk asmara ketika memberikan nama itu. Nama itu sangat cantik. Tetapi nama itu sangat tidak sesuai dengan orangnya. Kirana yang kutahu dia hitam, dekil, pakaiannya acak-acakan, kerudungnya lusuh, dan segala penggambaran yang tidak sesuai dengan konotasi “cantik”. Satu-satunya hal yang membuat dia cantik adalah dia seorang santriwati.

Ya, Kirana adalah seorang santriwati. Dia santri di salah satu pondok pesantren yang terletak di Kota Proklamator. Blitar. Pesantren kecil tempat dia tinggal dan belajar adalah pesantren Nurul Ulum. Sialnya, sama denganku. Sebuah pesantren yang berada di lor patung koi[1].

Sebagai santriwati aku bilang dia cantik karena aku percaya dengan sebuah semboyan yang aku ciptakan sendiri, bahwa “Wanita berkerudung itu cantik.” Bagaimanapun rupanya. Dan aku membuktikan semboyanku di pesantren. Walau aku agak menyesal ketika percaya dengan semboyan ini dan bertemu dengan Kirana. Seakan aku ingin menarik kata-kataku selama ini bahwa wanita berkerudung itu cantik. Seakan aku ingin mencabut kepercayaan itu dalam hatiku. Tetapi naas, kepercayaan itu malah tidak mau tercerabut.

Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Aku tidak tahu, orang tuaku mungkin agak pusing ketika memberikan nama serumit namaku. Atau mungkin dikejar deadline aqiqah sedang namaku belum ada. Atau mungkin kala itu sedang tenar-tenarnya petinju Muhammad Ali sehingga namanya terletak di tengah-tengah namaku, supaya pukulanku sekeras dia mungkin. Tapi entahlah, namaku Azril Alli Zaflan.

Hari ini adalah dua hari terakhir aku berada di Pesantren. Entah mengapa hari ini begitu cerah. Aku rasa burung-burung ikut bernyanyi bersamaku ketika pujian[2] setelah adzan subuh berkumandang. Langkah kaki jangkrik ikut berdendang mengikuti langkah santri-santri yang berjalan menuju masjid. Si angin dingin pagi terasa lebih hangat dari biasanya. Seakan mereka semua ikut berkabar dan bergembira, “Besok haflah akhirissanah, yeeeey!”

“Lan, besok haflah!” Diiringi gelak tawa, kata-kata itu mengagetkan aku. Rupanya dari Ilham, kawanku.

Lha terus nyapo?[3]” Aku masih cuek, karena aku tidak sedang ingin membahas kelulusanku. Lebih tepatnya, malas. Tetiba saja, sebuah pengumuman mengaburkan obrolan kami.

“Kepada seluruh santri, dimohon menuju ke lapangan depan untuk melaksanakan gladi bersih wisuda yang akan dilaksanakan esok hari. dimohon semuanya untuk berkumpul tepat pukul tujuh.” Suara itu sangat dikenal seluruh santri karena kekhasannya. Ustadz Misbah. Sang diktator wakil kepala bagian kesiswaan. Kalau boleh kugambarkan, beliau seperti Shah Rukh Khan yang sedang kesurupan. Dan itu setiap hari. Beliau tampan, kata para santri putri. Tapi beliau kejam, kata santri putra.

“Duh, Pak Kombor koar-koar lagi. Ayo cepat ke lapangan. Jangan sampai kita telat. disamplok[4] bisa mabuk kita nanti.” Begitulah cara kawan-kawanku memanggil beliau. Si Kombor. Dipanggil begitu karena beliau selalu menggunakan celana kebesaran (baca: terlalu besar) untuk ukuran kakinya.

“Lambemu! Itu ustadzmu Ham.” Setengah kubentak, karena itu ku anggap tidak sopan.

“Wes to ah, Ayo berangkat.”

“Pake baju dulu, kamu! Masak ke lapangan ote-ote[5] pake sarung. Malu diliat Kirana.”

“Asem, mendingan aku begini dan dilihat Kirana. Emoh aku.”

“Hahaha, ini anak kalo ngomong asal keluar dari mulut aja ya.”

“Lambe lambeku, kok. Hahaha.”

Kirana sudah terkenal di kalangan para santri. Tentu saja semuanya sepakat bahwa ia adalah santriwati yang kurang cantik jika dibandingkan dengan santriwati yang lain. Dan semuanya akan sepakat bilang “emoh” jika sudah diejek dengannya. Seakan-akan burung ikut berhenti berkicau jika namanya disebut. Rumput-rumput berhenti bergoyang jika namanya dipanggil.

***

“Ini undangannya mau dikasih foto nggak, mas?”

“Nggak usah, dek.”

“Loh, kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Ya sudah.”

Suaranya selalu saja membuatku rindu. Halus dan pelan. Padahal baru sepuluh menit lalu ia menelepon dan menanyakan gaun warna yang pas untuk pernikahan kami nanti. Kau masih ingat aku, kan? Aku Zaflan. Beberapa tahun lalu aku menceritakan tentang kehidupan pesantrenku. Hahaha, tidak terasa sembilan tahun berlalu. Dan dua hari esok adalah pernikahanku.

Calon istriku baru saja menelepon menanyakan tentang undangan. Aku pastikan sepuluh menit lagi dia akan meneleponku lagi. Tapi jangan kira aku tak pusing ya. Aku juga bingung memikirkan persiapan pernikahan kami. Gedung, cincin, maskawin, dan segalanya masih aku pikirkan. Tapi mungkin karena calon istriku saja memang sedang deg-degan, sehingga ia begitu bingung memikirkan persiapan yang lebih matang.

Aku perkenalkan saja, istriku itu cantik. Cantik sekali. Dengan bola mata hitam, mata yang agak sipit, alis yang tebal, dan senyum yang aduhai mempesona. Dan tentu saja ia berkerudung. Kau tentu ingat semboyanku. Maka aku tidak mau mencari wanita yang tidak menggunakan kerudung sehari-hari. Secantik apapun ia. Tetapi istriku punya segalanya. Sudah cantik, berkerudung pula. Terima kasih Tuhan.

***

“Undangan apa itu, mas?”

“Dari Zaflan, dek. Katanya besok dia menikah.”

“Owalah, Zaflan yang mondok bareng sama jenengan[6] ya mas?

“Iya, temanku dari pondok dulu itu.” Sejenak kemudian, “Hahahahaha!”

“Ada apa mas?”

“Dek, besok kita ke Blitar. Kita harus menghadiri pernikahan kawanku ini. Hahaha.”

“Iya, tapi kenapa mas sampai tertawa begitu?”

“Engkau akan tahu besok.”

***

Dari kejauhan aku tahu bahwa itu Ilham, kawan lamaku. Gaya berjalan yang khas ala Ilham masih sangat ku kenali. Aku dulu mengenalnya sebagai model jalan yang sok, tapi mungkin karena sudah terlalu sering maka aku biarkan saja. Ia tampak lebih rapi, tak seperti di pondok dulu yang kebiasaanya membuka baju di sembarang tempat. Dan satu hal lagi, dia membawa istri.

“Assalamualaikum.” Suaranya masih lantang saja rupanya.

“Waalaikumsalam.” Langsung ku jawab, dan kami berpelukan. Maklum, dua kawan erat yang tak pernah bertemu sejak sembilan tahun lalu. Layaknya dua pasang sayap elang yang patah dan disatukan kembali. Kami bercakap cukup panjang. Tentang kehidupan pesantren dulu, sekarang, dan tentu saja hal-hal yang kami lakukan sejak sembilan tahun lalu. Rupanya baru sebulan ia menikah. Ia menikah dengan Fitri, yang baru aku tahu bahwa ia sepondok dengannya ketika ia belajar di Yogyakarta. Sampai seluruh acara selesai, ia tak kuperbolehkan pulang. Maklum, ini adalah pertemuan pertama kami setelah sembilan tahun.

“Mana istrimu, Lan?” Tanya Ilham dengan senyum mengejek.

“Di dalam, mungkin sedang ganti pakaian.” Jawabku singkat.

“Benar kau menikahi dia?” Kali ini ia mengernyitkan dahinya pertanda dia keheranan.

“Iya, memang kenapa? Ada yang salah?”

“Bukan begitu, tapi kan?” Belum sempat meneruskan bicaranya, sebuah suara yang sangat ku kenal bicara. “Assalamualaikum. Mas, kerso kopi nopo pripun?[7]

“Waalaikumsalam. Iya dek. Dua buat kang Ilham juga.” Jawaban itu membuat ia melangkah pergi lagi. Dan seperti yang sudah kuduga, pertanyaan ini akan muncul.

“Zaflan, ini Kirana yang mana? Aku kira yang sepondok sama kita dulu.”

“Iya, itu Kirana yang sepondok dengan kita dulu.”

“Jiangkrik. Kok dadi ayu[8]?”

“Allah yang bikin dia cantik.”

Iya. Aku menikah dengan Kirana. Wanita yang dulu aku anggap merusak semboyanku tentang cantik. Wanita yang dulu hitam, dekil, acak-acakan, dan tak pernah rapi. Wanita yang dulu ditolak semua pria. Bahkan, mungkin aku yang dulu juga menolaknya. Tetapi kini aku memilikinya. Sembilan tahun ternyata bukan waktu yang mustahil bagi Tuhan merubahnya seratus delapan derajat berbalik dari keadaannya dulu. Kini, ia cantik. Dan, ia istriku. Namanya Kirana.

 

oleh: Muhammad Farid Abdillah

 

[1] Bahasa jawa: Utara patung koi. Sebuah patung berbentuk ikan koi sebagai ciri kota Blitar. Patung ini terletak di sebelah utara stadion sudanco supriyadi. Blitar.

[2] Kegiatan melantunkan shalawat setelah adzan berkumandang

[3] Memang kenapa

[4] Bahasa Jawa: Ditampar

[5] Bertelanjang dada.

[6] Bahasa Jawa: Kamu. Biasanya digunakan sebagai bahasa penghormatan terhadap orang lain.

[7] Mas, mau kopi nggak?

[8] Kok jadi cantik?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *